#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (1) : Selamat Siang, Raisa !
20:20
Februari tahun ini ada hal tak biasa
yang lama kelamaan mulai menjelma menjadi sesuatu yang biasa. Sesuatu
sederhana yang sempat ku hiraukan, namun lama-lama memunculkan rasa
penasaran. Sesuatu yang simple, bahkan sangat-sangat simple. Hanya
secarik kertas putih dengan gambar tangkai mawar putih di sisi ujung
kanan bawah, berisi tulisan tangan yang saking seringnya kubaca aku
sampai hafal tiap detil tulisan tangannya. Secarik kertas itu muncul
di kolong mejaku tepat setelah jam makan siang berakhir tanpa aku
tahu siapa yang sengaja menaruh kertas itu di kolongku. Sejak awal
Februari lalu, aku selalu menemukannya di kolong meja dengan kalimat
di kertas itu yang memang sengaja ditujukan untukku. Hanya tiga kata
: “Selamat Siang, Raisa !”
Siang ini, beberapa menit sebelum jam
makan siang dimulai, bisa kulihat beberapa anak perempuan di kelasku
yang sibuk berbincang dengan anak perempuan lainnya. Aku bisa
menangkap sedikit pembicaraan mereka. Mereka tengah membahas tentang
cinta. Yang mereka bicarakan tak jauh dari topik
pamer-kado-valentine-dari-pacar atau mungkin sekedar membicarakan
apa-kira-kira-sureprise-yang-akan-diberikan-pacar-mereka-masing-masing.
Entahlah, yang jelas aku sama sekali tidak tertarik untuk bergabung
dengan mereka. Aku sudah trauma dan berjanji pada diriku sendiri
untuk tak lagi membicarakan cinta. Pengalaman yang mengajarkanku
untuk tidak kembali jatuh pada hiruk pikuk cinta yang pada akhirnya
hanya akan berubah menjadi sebilah pisau tajam yang siap menggoreskan
luka. Lagipula tak ada alasan logis untuk meyakinkan diriku bahwa aku
perlu jatuh cinta(lagi) .
Ketika bel waktu makan siang berbunyi,
aku lebih memilih menuju kafetaria dan menghabiskan beberapa makanan
disana sebelum akhirnya aku mengikuti mata pelajaran kalkulus yang
amat membosankan. Setibanya di kafetaria, meja-meja yang biasanya
lengang tampak diisi oleh pasangan muda-mudi. Maklumlah, hari ini
hari ke-empatbelas di bulan Februari. Hari dimana pasangan kekasih
menghabiskan waktu berdua –yang menurutku- hanya membuang waktu
belaka. Aku tidak seberapa memperdulikan itu. Kini, yang kuinginkan
hanyalah memesan makanan, menghabiskannya secepat mungkin dan kembali
ke kelas untuk mengecek kolong mejaku apakah si pengirim misterius
itu masih konsisten dengan aksinya atau akan berhenti di hari ke
empatbelas saja. Semangkuk Mie ayam dan segelas Es Jeruk telah
tersaji dan aku selesai menghabiskannya dalam waktu kurang dari lima
menit.
Aku kembali ke kelas dan sesegera
mungkin mengecek kolong mejaku. Secarik kertas memo dengan kertas
yang sama, masih dengan pola tulisan tangan yang sama, masih dengan
gambar mawar putih di sisi ujung kanan bawah yang masih sama sejak
memo itu tertempel di kolong mejaku sejak 1 februari lalu. Namun, di
hari ke-empatbelas ini ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang
membuat aku tak bisa mengenali kertas ini layaknya kali pertama aku
menerima kertas ini. Kertas ini seakan berubah seketika dan
menyembunyikan jati dirinya. Ia menyembunyikan sesuatu yang selama
ini ia pertontonkan. Kertas itu tak lagi menampakkan kalimat “Selamat
Siang, Raisa !” 3 kata yang tertulis biasanya telah beranak menjadi
4 buah kata “I Love You,Raisa !”
Beberapa minggu kemudian, aku baru
tahu bahwa tulisan tangan yang kukenali di kertas memo itu sama persis
dengan tulisan tangan milik teman perempuanku, Jessica.
#28HariBerceritaCinta -dims-
2 comments
Hahahaha. :D
ReplyDelete:) punyamu bagus (y)
ReplyDelete