#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (2) : Gadis Mercusuar
07:06
Mungkin pantai ini adalah kumpulan dari
semua kisah hidupku. Aku lahir di pantai ini, aku dibesarkan di sebuah rumah
yang tak jauh dari sini dan profesi menuntutku untuk terus bertahan di sini.
Semuanya berawal dari sini, termasuk urusan asmara. Semua kebahagiaanku dengan
Diva, terangkum disini. Semua kenanganku bersamanya seakan kembali terngiang
saat aku mengunjungi tempat ini. Pantai ini sangat sederhana, bahkan terlalu
sederhana untuk dikatakan sebagai sebuah pantai. Tempat ini tak memiliki pasir
putih, hanya pasir hitam pekat. Tempat ini tak memiliki pohon kelapa
sebagaimana yang biasa digambarkan oleh anak taman kanak-kanan ketika
ditugaskan menggambar pantai dan juga tempat ini terlampau sepi untuk disebut
sebagai pantai. Namun, aku dan Diva sepakat untuk menyebut tempat ini pantai.
Pantai tempat mencurahkan semua kisah kita berdua untuk didengar ombak yang
tengah bergulung ria sembari mengobrak-abrik pasir hitam yang tergerus air laut.
Aku
masih ingat benar kapan pertama kali aku melihatnya. Gadis cantik itu berdiri
tepat di bawah mercusuar yang tak jauh dari pantai ini tiga tahun silam.
Semenjak itu, frekuensi kunjunganku ke pantai ini meningkat drastis. Bahkan
hampir tiap sore waktu yang kumiliki kuhabiskan disini hanya untuk menunggu
gadis dengan rambut hitam lebat digelung itu muncul di bawah mercusuar. Melihat
siluet tubuhnya di hamparan perairan saja, aku sudah cukup bahagia. Yang aku
bayangkan saat itu hanyalah betapa bertambah bahagianya ketika kelak aku bisa
mengenalnya lebih dekat.
Entah
karena sang ombak yang mengantarkan harapanku kepada tuhan atau memang gadis
dengan rambut digelung itu mengerti perasaanku, yang jelas beberapa bulan
kemudian ia tak lagi Nampak di bawah mercusuar. Namun dia tepat ada di
hadapanku. Siluet tubuhnya yang dulu hanya bisa kulihat dari kejauhan kini bisa
kulihat dengan jelas. Paras wajahnya yang jelita tak dapat ditutupi. Ia
menyulurkan tangannya dan menyembutkan namanya. Sejak saat itu, kami sering
menghabiskan waktu di pantai ini bersama. Membantunya menanam bakau di bawah
mercusuar atau sekedar bermain air dengannya. Sejak saat itu, aku berjanji
kepada burung-burung kecil yang berterbangan dan kepada seluruh ciptaan tuhan
yang agung bahwa aku akan selalu
menjaganya.
Aku
menyatakan cinta dan iapun menerimanya. Kami menjadi sepasang kekasih dan
berjanji satu sama lain untuk menghabiskan waktu berdua selamanya. Dia tipe
gadis yang tak banyak bicara, dan itulah yang membuat aku semakin jatuh cinta.
Namun, semuanya tak bertahan lama. Di tahun kedua hubungan kita, aku tak lagi
menemukan sosoknya di pantai ini. Satu hari, dua hari ia tak kunjung menampakkan
paras cantiknya. Aku semakin gelisah. Berharap ini hanya mimpi buruk yang akan
segera berakhir ketika aku terbangun dari tidurku.
Kenyataan
pahit tiba, seorang nelayan memberitahuku bahwa Diva tenggelam di laut beberapa
hari lalu. Mayatnya dikebumikan tak jauh dari mercusuar tempat ia biasanya
berdiri. Kesedihan tak bisa dibendung lagi. Butiran kebahagiaan yang telah
kubangun bersamanya kini berubah menjadi butiran air mata yang mengenang di
sela-sela pipiku. Membasahi rahangku yang kering. Aku hanya diam mematung dan
berjanji akan mengunjungi makamnya setiap sore layaknya aku menjumpainya pada sore
hari di tempat yang sama.
Sore
ini adalah tepat tiga tahun sejak pertama kali aku bertemu degannya di
mercusuar itu. Semuanya masih sama, awan masih cerah, daun-daun bakau mulai
bersemi di pergantian musim, ombak terus bergulung-gulung dengan rupawan, kicau
sabda burung yang masih menggema, ikan-ikan yang lompat kesana kemari. Semuanya
nampak sama layaknya tragedi pertemuan kami tiga tahun lalu. Divapun
hadir. Tepat sebelum sang surya
tenggelam, aku bisa melihat sosok gadis itu berdiri di bawah mercusuar. Ia
melambaikan tangannya. Memancarkan senyumnya yang paling mempesona. Disinilah
aku tersadar bahwa sebenarnya gadis mercusuar itu juga masih mencintaiku, kini
dan nanti.
#28HariBerceritaCinta
-dims-
0 comments