PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (2)

bagian dua (2). Mataku perlahan membuka. Kulihat sekelilingku. Aku berada di ruang yang berbeda. Aku ingat kalau aku telah pingsan bebe...

bagian dua (2).

Mataku perlahan membuka.
Kulihat sekelilingku.
Aku berada di ruang yang berbeda.
Aku ingat kalau aku telah pingsan beberapa saat yang lalu.

                Aku menghembuskan nafas panjang di ranjang berukuran sedang dengan selimut putih bersih yang menutupi tubuhku. Di sebelahku , Bu Musdalifah masih setia mendampingiku. Di ruang UKS ini hanya ada kami berdua , hanya aku dan bu  Mus. Kulihat jam weker yang ada di sudut meja , Astaga ! jarum jam sudah bergerak ke arah lima , ini jam lima sore, dan itu artinya aku terlambat 3 jam pulang ke rumah. Gawat ! Bunda pasti marah besar, aku segera beranjak dari ranjang ini namun bu Mus mencoba untuk menenangkanku , "Tenang Citra , Bu Mus sudah telepon bundamu. Sebentar lagi beliau datang, bunda akan menjemputmu" 
                  Syukurlah , Setidaknya aku tidak perlu pusing mencari-cari alasan tatkala sampai di rumah dan mendengar semua omelan khas mama yang aku sudah sangat hafal betul dialognya. Namun, tiba-tiba pikiranku kembali teringat akan isi amplop yang kubaca beberapa jam yang lalu. Akupun berontak dari tempat tidurku dan menghampiri bu Mus yang tengah mengaduk teh manis di sudut ruangan ini. "Bu Mus , bunda belum tahu soal isi amplop tadi , kan ?" aku hanya ingin memastikan bahwa bunda tidak tahu menahu soal ini. beberapa detik kemudian , seusai adukan terakhir bu Mus , ia berpaling menatap wajahku serius , lalu berkata "Loh ? Bu Mus yang sebenarnya tanya ini ke kamu , Bunda sudah tahu soal ini belum ?" 

                 "Bu Mus , jangankan bunda ! Citra saja juga baru tahu kabar pahit ini beberapa saat tadi bu. Citra juga nggak tahu apa penyebab Citra bisa di-diagnosa seperti itu" ujarku mencoba meyakinkan bu Mus.

                  Bu Mus mulai tampak panik , "Jadi kamu sendiri belum tahu soal itu ?" aku tidak menjawab , hanya menggeleng.

                   Sebelum bu Mus kembali membuka mulut untuk bersuara, aku sesegera mungkin memotong ucapan Bu Mus dengan kalimatku. terdengar tidak sopan memang , namun aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja , "Bu Mus , Jawab saya ! Bunda sudah tahu soal ini ?"

                    Untuk kesekian kali, bu Mus kembali menghembuskan nafas panjang dan dilanjutkan dengan dialognya , "Sampai saat ini bunda Citra masih belum tahu, tapi cepat atau lambat bunda harus tahu soal ini" ujarnya seraya memoles pipiku dengan jemarinya yang halus.

                    Aku berontak. Ku genggam jemarinya erat-erat. Tanpa kuduga, air mataku yang semenjak tadi sembunyi kini menyeruak keluar membasahi pipi dan daguku yang penuh dengan kepolosan. Dengan isak tangis yang masih terdengar lirih, aku berusaha meyakinkan bu Mus , "Bunda gak boleh tahu bu ! bunda gak boleh tahu !" kalimat itu terus terulang hingga akhirnya tanpa kusadari volume bicaraku semakin keras. Di saat itu pula bu Mus membentakku dan langsung menghentikan teriakanku.

                    "Diam Citra ! Ini Masalah Serius ! dan sudah menjadi tanggung jawab Bu Mus untuk memberitahukan Bunda ! Ini bukan masalah sepeleh Citra ! Ini masalah besar"

                    Aku terdiam.
                    Kata-Kata yang baru saja terlontar dari mulut Bu Mus membuatku lemas terdiam tak berdaya. Di hadapanku , dapat kulihat bu Mus dengan ekpresi yang merasa bersalah menatapku yang diam dilema menghadapi kenyataan pahit yang beruntun secara tiba-tiba.

                     Ia membuka tangannya lebar-lebar. Pelukan hangatnya mendarat di badanku. Aku dapat merasakan dengan jelas aura keibuan dari pelukan wanita berjilbab yang satu ini. Suaranya yang hangat sedikit menenangkanku kala itu. "Maaf ibu ya nak , tadi ibu kelewatan. Ibu cuma pengen kasih tau kamu kalo masalah ini masalah besar dan sudah kewajiban ibu untuk memecahkan masalah ini , yang jelas bersama orangtuamu. Tapi ibu janji tidak akan memberitahukan sekarang. Tapi suatu saat , bunda harus tahu"

                       Penundaan Waktu. Setidaknya ada waktu yang cukup buatku untuk menenangkan diri. Kini , anak sekecil aku harus menanggung dilema besar yang aku yakin belum pernah dihadapi oleh anak se-dini aku. Langit semakin mendung , jarum jam terus berjalan dan bunda belum menampakkan dirinya. Pelukan Bu Mus semakin lama semakin hangat membawaku hanyut terhadap kenangan indah bersama bunda beberapa tahun silam.

(LANJUT KE BAGIAN SELANJUTNYA ....)

You Might Also Like

1 comments

Flickr Images