PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (1)

             Aku adalah salah satu makhluk tuhan paling sempurna yang diturunkan dimuka bumi untuk bersosialisasi dengan makhluk lainnya. Ak...

             Aku adalah salah satu makhluk tuhan paling sempurna yang diturunkan dimuka bumi untuk bersosialisasi dengan makhluk lainnya. Aku adalah putri dari salah satu keluarga terhormat yang selalu mengedepankan nama baik keluarga dan memprioritaskan semua hal yang ada sangkut pautnya dengan keluarga. Aku juga hidup di tengah-tengah kemelut persoalan orang-orang manja yang selalu hidup serba ada. Ini semua membuatku seakan tak mengerti tentang apa yang sebenarnya tuhan inginkan dengan keberadaanku di muka bumi.

             Namaku sederhana , nama pasaran yang sudah sangat banyak digunakan oleh orang Indonesia. Citra Pertiwi Koesomadiningrat. Cukup panggil aku Citra , maka aku akan mencari sumber suara itu. Aku hanya anak kecil yang beranjak menuju dewasa. Usiaku 15 tahun , usia dimana para remaja sedang gencar-gencarnya mencari jati diri untuk dipertontonkan kepada makhluk sebaya disekitarnya. Aku sama seperti anak-anak lainnya , bermain , bersosialiasi, bercanda-tawa dan melakukan aktivitas sebagaimana anak remaja lainnya. Namun , itu dulu !

           Semuanya berubah saat tragedi 2 tahun yang lalu menimpa diriku. Kala itu, sedang ada tes golongan darah yang dilakukan di sekolahku. Saat itu,aku baru 3 bulan mengenakan seragam putih-biru di sekolah ini. bisa digolongkan waktu itu aku masih berstatus siswa baru. Semua berjalan sewajarnya, hingga beberapa minggu kemudian , beberapa guru BK (Bimbingan Konseling) mendatangi kelasku dan menyebut namaku. Guru-guru tersebut memintaku untuk masuk ke ruang BK sesaat setelah guru itu memanggil asmaku. Akupun berjalan mengikuti kemana arah langkah kaki kedua guru itu berjalan. Jujur saya , ini adalah kali pertama aku mendapat panggilan dari BK yang dikenal sebagai penegak kedispilanan di sekolah. Langkah demi langkah yang ku ayun adalah pertanyaan besar di benakku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini , aku yakin seyakin-yakinnya tidak pernah melakukan sedikitpun pelanggaran.Namun entahlah, yang jelas tinggal beberapa langkah lagi aku akan menemukan jawabannya.

Kedua guru itu membuka pintu ruang BK.
Di dalam dapat kulihat ada beberapa guru.
Muka mereka menatapku dengan aneh.
Aku ketakutan.

                 Tujuh. Itulah jumlah guru yang kini tengah duduk di hadapanku. Pikiranku melayang. Untuk apa guru sebanyak ini berkumpul hanya untuk bertemu anak baru yang sama sekali tidak populer seperti aku. Belum selesai anganku bertanya-tanya , suara salah satu diantara mereka membuka pembicaraan.

                "Kamu tau kenapa kamu kami panggil disini ?" tanyanya dengan halus. aku masih diam mebisu , tidak tahu harus menjawab apa dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari nada yang dia ucapkan tersirat aura kepedulian yang entah aku tak tahu apa maksudnya. Aku menggeleng pelan , guru tadi membenarkan posisi duduknya seraya menghembuskan nafas panjang.

                "Apa yang sebenarnya terjadi denganmu , Citra ?" kali ini guru yang duduk di bangku paling pojok mulai angkat bicara. Aku semakin diam bagai orang dungu yang tak tahu harus menunjukkan ekspresi kebingungan yang bagaimana lagi. Kali ini aku benar-benar bingung , apa ini mimpi ? tidak mungkin , baru beberapa menit yang lalu, Ernita teman sebangkuku menepuk pundakku ketika guru BK tadi masuk ke kelas , dan aku benar-benar merasakan sakit. Itu artinya ini nyata dan bukan mimpi.

               Kali ini aku mulai memberanikan diri untuk mulai bicara, kuatur nafasku, kurendam emosiku dan dengan lantang kuhembuskan suaraku "Maaf bu , saya tidak mengerti , ada apa ini ? saya sendiri tidak tahu mengapa saya dipanggil disini dan saya juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi terhadap diri saya, bisa ibu jelaskan ?" beberapa diantara mereka mendengarkanku dengan serius, sebagian lain justru tertawa ringan. Salah satu guru berkumis lebat yang ikut tertawa tadi membuka mulutnya mengatakan satu kalimat yang membuat emosiku membuncah.

              "Aku tahu kau anak teater, tapi bisakah kau tak gunakan ilmu sandiwaramu di ruangan ini ?" ujarnya dengan sinis.

              Bu musdalifah , salah satu guru BK yang ku kenal langsung mencekal omongan bapak guru yang tak memiliki etika berbicara tadi , "Pak Mahfud , Bisa anda menjaga sikap anda sebagai guru ?" oke, ruangan yang luas ini terasa sesak buatku. Aroma panas penuh perdebatan menyeruak di sela-sela ruangan dengan warna cat hijau yang mendominasi ruangan.

             Bu Mus lanjut bicara , "Citra , Bisakah kau jelaskan tentang penyakitmu ?"

              Aku semakin dungu. Penyakit ? Penyakit apa ? aku tidak pernah mengidap penyakit tertentu. Paling-paling aku akan menjerit kesakitan jika sakit gigi mulai menyerang. Cukup itu , tidak ada yang lain. Hatiku bersuara demikian , namun mulutku diam seakan mengisyaratkan bahwa aku benar-benar tidak paham akan situasi yang menjepit ku saat ini.

             Pak mahfud , guru berkumis lebat tadi mulai emosi denganku dan raut wajah dungu-ku yang semakin menjadi-jadi. Suaranya yang menggelegar menggoyahkan hatiku "Tak usah basa-basi lah bu Mus , tunjukkan amplopnya , biar ratu sandiwara itu mengerti apa maksud kita"

            Ratu Sandiwara ? Guru itu benar-benar sudah menginjak-injak diriku. Apa salahku terhadapnya sampai-sampai dengan beraninya ia mengutukku dengan kalimat demikian. Entahlah , emosiku buyar ketika bu Mus melambaikan tangannya yang tengah menggenggam amplop ukuran tanggung berwarna coklat dengan gambar burung merpati di ujung kanan amplopnya.

            Tanganku menerima amplop itu , aku masih bingung , di sisi belakang tertulis jelas nama sebuah rumah sakit di kota ini. Nama rumah sakit ini sama persis dengan nama rumah sakit yang kulihat di badge pada dada salah seorang suster yang memeriksaku saat tes darah di sekolah beberapa minggu yang lalu. Ketika amplop coklat itu kubuka , aku tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya tampak gelap.

Aku Pingsan.

(LANJUT KE POSTINGAN BERIKUTNYA ......)






You Might Also Like

0 comments

Flickr Images