#28HariBerceritaCinta (8) : TENTANG MAYA

                    Irene Theresia Maya Cassanova . Sebuah nama akun di jejaring social facebook yang berhasil membuatku rela menghabis...

                    Irene Theresia Maya Cassanova. Sebuah nama akun di jejaring social facebook yang berhasil membuatku rela menghabiskan jam malamku untuk bercengkerama dengan layar computer berjam-jam. Dia adalah gadis Indonesia yang tengah meniti pendidikan di Belanda. Parasnya cantik, kulitnya putih, feminim dan kelihatan smart. Itu yang bisa kutangkap ketika melihat satu persatu foto yang diunggah di akun facebooknya. Namun, semenjak pertama kali kita memutuskan untuk berpacaran, belum pernah sekalipun kita bertemu. Dan sepertinya hari ini adalah klimaksnya.

                Hari ini adalah hari kepulangannya ke Indonesia untuk menghabiskan waktu liburan. Bagiku, hari ini adalah hari besar. Sudah 2 tahun lebih kami berpacaran secara Long Distance Relationship. Tak hanya itu, selama 2 tahun itu pula aku belum pernah bertemu dengannya. Kami hanya bertegur sapa dan bercanda mesra via facebook. Hanya itu saja, jarak antara Indonesia dan Belanda yang terpisah jauh membuat hubungan kami terbengkalai 2 tahun lebih. Namun itu semua tak menyurutkan langkah kami untuk meneruskan hubungan ini. Hari ini aku dan dia akan bertemu, cinta dua benua akan segera menyatu.

                Kini aku masih menanti di bandara Soekarno Hatta. Aku berdiri tepat di bawah papan tanda kedatangan Internasional. Mataku tak henti-hentinya memandangi satu persatu wajah yang lewat sekelibat di sekelilingku. Aku masih ingat benar bagaimana wajah khas maya. Aku juga masih ingat bagaimana suaranya ketika kami berhubungan via skype setiap malam sabtu. Aku juga masih hafal warna kontak lensa yang sering ia pakai. Intinya, aku sudah tak sabar bertemu Maya dan menghabiskan hari-hari berikutnya yang jauh lebih indah sebelum akhirnya ia kembali ke belanda untuk menyelesaikan studinya.

                Tepat  2 jam setelah aku menunggu, tibalah seorang wanita yang sudah kukenali wajah dan lekuk tubuhnya. Ya, wanita itu adalah Maya yang selama ini berhubungan denganku via facebook. wajahnya sama persis ketika terakhir kali kami ber-skype ria. Tapi dia tidak sendirian. Dia bersama seorang lelaki berbadan cukup kekar di sampingnya. Dan tangannya, -oh- tangan mereka bergandengan. Bergandengan amat sangat rapat. Mereka tidak tampak seperti kerabat atau hubungan keluarga lainnya dan menurutku juga lebih dari sekedar itu. 

                Dadaku sesak tak terkira, aku berlari kecil menghampirinya. Ketika aku berada tepat dihadapannya. Maya tidak menunjukkan ekspresi bahagia layaknya seseorang yang berjumpa kekasihnya setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Tatapan wajahnya pucat, ia melihatku sejenak lalu memalingkan wajahnya ke arah lelaki bule yang ada di sampingnya itu. Mereka bercakap sedikit yang sialnya menggunakan bahasa belanda dan aku tak tahu artinya.

                Maya melepaskan genggamannya dari lelaki itu lalu menarik tanganku kasar menuju sudut ruangan ini. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi bahagia sama sekali dan aku mengikuti langkah kakinya hingga akhirnya ia berhenti.

                Ia mulai membuka mulut. Aku merasakah keasingan disini. Aku tak pernah melihat Maya seperti ini. Maya yang dulu penuh keanggunan namun berubah begitu saja ketika aku melihat tatapan matanya. Aku masih kaget melihat apa yang terjadi sedemikian cepat ini. Satu kalimat yang meluncur dari bibirnya sukses membuat aku hampir saja memecahkan isi kepalanya.

                     “Hubungan kita cukup sampai disini, Dio”

                Brakk !! mungkin begitulah suara perasaanku saat itu. Suatu hantaman keras baru saja meluncur. Tepat di hatiku, tepat dimana selama ini aku menyimpan banyak rasa padanya. Aku berusaha memberontak. Aku memborbardir dirinya dengan banyak sekali pertanyaan. Ia hanya menjawab dengan tegas seakan-akan ia tak pernah berbuat dosa

                “Aku sudah bilang cukup disini. Lelaki itu Andrew. Dia datang kesini untuk melamarku. Sudah cukup Dio, tidak ada yang perlu kita bicarakan”

                Langkah kakinya menjauh. Aku dibiarkan begitu saja berdiri di ujung koridor ruang keberangkatan dengan perasaan tak menentu. 2 tahun penantianku berujung pada kemunafikan cinta. Kalimat terakhir darinya sukses merubah rasa rinduku padanya menjadi rasa ingin menghabisi nyawanya. Dan demi tuhan, aku tidak akan rela jika dia, Irrene Theresia Maya Cassanova hidup bahagia.

#28HariBerceritaCinta
-dim's-

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images