#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (8) : TENTANG MAYA
11:57
Irene
Theresia Maya Cassanova. Sebuah nama akun di
jejaring social facebook yang berhasil membuatku rela menghabiskan jam malamku
untuk bercengkerama dengan layar computer berjam-jam. Dia adalah gadis
Indonesia yang tengah meniti pendidikan di Belanda. Parasnya cantik, kulitnya
putih, feminim dan kelihatan smart. Itu
yang bisa kutangkap ketika melihat satu persatu foto yang diunggah di akun
facebooknya. Namun, semenjak pertama kali kita memutuskan untuk berpacaran,
belum pernah sekalipun kita bertemu. Dan sepertinya hari ini adalah klimaksnya.
Hari
ini adalah hari kepulangannya ke Indonesia untuk menghabiskan waktu liburan.
Bagiku, hari ini adalah hari besar. Sudah 2 tahun lebih kami berpacaran secara Long Distance Relationship. Tak hanya
itu, selama 2 tahun itu pula aku belum pernah bertemu dengannya. Kami hanya
bertegur sapa dan bercanda mesra via facebook. Hanya itu saja, jarak antara
Indonesia dan Belanda yang terpisah jauh membuat hubungan kami terbengkalai 2
tahun lebih. Namun itu semua tak menyurutkan langkah kami untuk meneruskan
hubungan ini. Hari ini aku dan dia akan bertemu, cinta dua benua akan segera menyatu.
Kini
aku masih menanti di bandara Soekarno Hatta. Aku berdiri tepat di bawah papan
tanda kedatangan Internasional. Mataku tak henti-hentinya memandangi satu
persatu wajah yang lewat sekelibat di sekelilingku. Aku masih ingat benar
bagaimana wajah khas maya. Aku juga masih ingat bagaimana suaranya ketika kami
berhubungan via skype setiap malam sabtu. Aku juga masih hafal warna kontak
lensa yang sering ia pakai. Intinya, aku sudah tak sabar bertemu Maya dan
menghabiskan hari-hari berikutnya yang jauh lebih indah sebelum akhirnya ia
kembali ke belanda untuk menyelesaikan studinya.
Tepat 2 jam setelah aku menunggu, tibalah seorang
wanita yang sudah kukenali wajah dan lekuk tubuhnya. Ya, wanita itu adalah Maya
yang selama ini berhubungan denganku via facebook. wajahnya sama persis ketika
terakhir kali kami ber-skype ria. Tapi dia tidak sendirian. Dia bersama seorang
lelaki berbadan cukup kekar di sampingnya. Dan tangannya, -oh- tangan mereka
bergandengan. Bergandengan amat sangat rapat. Mereka tidak tampak seperti
kerabat atau hubungan keluarga lainnya dan menurutku juga lebih dari sekedar
itu.
Dadaku
sesak tak terkira, aku berlari kecil menghampirinya. Ketika aku berada tepat
dihadapannya. Maya tidak menunjukkan ekspresi bahagia layaknya seseorang yang
berjumpa kekasihnya setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Tatapan wajahnya
pucat, ia melihatku sejenak lalu memalingkan wajahnya ke arah lelaki bule yang
ada di sampingnya itu. Mereka bercakap sedikit yang sialnya menggunakan bahasa
belanda dan aku tak tahu artinya.
Maya
melepaskan genggamannya dari lelaki itu lalu menarik tanganku kasar menuju
sudut ruangan ini. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi bahagia sama sekali dan
aku mengikuti langkah kakinya hingga akhirnya ia berhenti.
Ia
mulai membuka mulut. Aku merasakah keasingan disini. Aku tak pernah melihat
Maya seperti ini. Maya yang dulu penuh keanggunan namun berubah begitu saja
ketika aku melihat tatapan matanya. Aku masih kaget melihat apa yang terjadi
sedemikian cepat ini. Satu kalimat yang meluncur dari bibirnya sukses membuat
aku hampir saja memecahkan isi kepalanya.
“Hubungan
kita cukup sampai disini, Dio”
Brakk
!! mungkin begitulah suara perasaanku saat itu. Suatu hantaman keras baru saja
meluncur. Tepat di hatiku, tepat dimana selama ini aku menyimpan banyak rasa
padanya. Aku berusaha memberontak. Aku memborbardir dirinya dengan banyak
sekali pertanyaan. Ia hanya menjawab dengan tegas seakan-akan ia tak pernah
berbuat dosa
“Aku
sudah bilang cukup disini. Lelaki itu Andrew. Dia datang kesini untuk
melamarku. Sudah cukup Dio, tidak ada yang perlu kita bicarakan”
Langkah
kakinya menjauh. Aku dibiarkan begitu saja berdiri di ujung koridor ruang
keberangkatan dengan perasaan tak menentu. 2 tahun penantianku berujung pada
kemunafikan cinta. Kalimat terakhir darinya sukses merubah rasa rinduku padanya
menjadi rasa ingin menghabisi nyawanya. Dan demi tuhan, aku tidak akan rela
jika dia, Irrene Theresia Maya Cassanova hidup
bahagia.
#28HariBerceritaCinta
-dim's-
0 comments