PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (3)

(bagian tiga)                      Mobil jaguar putih yang kutumpangi bersama bunda kini perlahan bergerak menuju pelataran rumah. Mbok ...

(bagian tiga)


                     Mobil jaguar putih yang kutumpangi bersama bunda kini perlahan bergerak menuju pelataran rumah. Mbok Ira bergegas berlari untuk membukakan pintu garasi. Wanita paruh baya yang sudah mengabdi menjadi pembantu rumah tangga di rumahku sejak aku belum lahir ini memancarkan aura letih yang terlihat jelas dari raut wajahnya. Kendati demikian, ia tetap patuh setiap apa yang diperintahkan bunda dan seluruh anggota keluarganya.

                     Suara mesin mobil berhenti. Aku dan bunda bergegas keluar dari mobil dan menuju ke kamar masing-masing. Seperti biasanya, bunda tak berbicara sepatah katapun dan lansung meluncur menuju kamar yang letaknya amat sangat dekat dengan pintu utama rumah kami. Semenjak kepergian ayah ke Belanda beberapa tahun yang lalu, bunda memang cenderung lebih banyak diam dan tak banyak bicara. Kebiasaan bunda bersosialisasi dengan tetangga sebelah juga sedikit banyak ia kurangi. Bunda lebih memilih mengejar ambisi kariernya di kantor ketimbang berkumpul dengan ibu-ibu komplek yang tak lain adalah tetangga bunda sendiri.

                   Sejak tiba di kamar beberapa menit yang lalu, aku tidak merubah sedikitpun posisi dudukku. Aku masih duduk manis di ranjang pribadiku lengkap dengan setelan putih-biru yang masih aku pakai semenjak berangkat ke sekolah tadi pagi. Di pikiranku, masih tergambar jelas bagaimana peristiwa siang tadi berlangsung begitu cepat. Peristiwa yang membuatku ketakutan. Peristiwa yang membuatku tak berani berkutik dari tempat dudukku saat ini. Aku hanya bisa diam. Diam sambil memikirkan langkah apa yang akan kulakukan pada hari-hari berikutnya.

                  Amplop coklat yang kubuka tadi siang memang hanya berisi satu lembar kertas , tidak lebih. Namun isinya lebih dari satu hantaman. Hantaman pahit yang harus aku terima. Citra Pertiwi Kosoemadiningrat , seorang putri konglomerat dari keluarga terpandang, masih berusia 15 tahun, dari hasil sampel tes darah yang awalnya diperuntukkan untuk cek golongan darah ternyata memiliki diagnosa lain yang menyimpulkan bahwa mulai detik itu aku harus hidup bersama virus terkutuk yang sewaktu-waktu dapat mengambil jiwaku.

                    ODHA, itulah sebutanku kini. Aku resmi di diagnosa sebagai penderita HIV-AIDS positif. Di tubuhku ada banyak virus yang ikut turut menemani lika-liku kehidupanku. Dan sejak itu, kehidupanku berubah. Berubah 180 derajat.

Aku terlelap.

                    Esoknya, ketika matahari berusaha menyelipkan cahayanya di sela-sela kaca jendela kamarku aku terbangun dalam keadaan masih memakai setelan seragam lengkap. Rupanya beban fisik dan pikiran yang kemarin malam terus membayangi membuatku tertidur pulas tanpa sadar. Kepalaku agak sedikit pusing. Langkahku agak sedikit terhuyung-huyung. Mungkin ini efek porsi tidur yang terlalu gemuk daripada biasanya. Kupercepat langkahku menuju kamar mandi dan menyegerakan diri untuk mandi. Karena aku tahu, sebentar lagi bunda pasti akan memanggil-manggil namaku.

                 Beban pikiran yang masih tertanam dalam jiwa kecilku membuat air hangat yang mengguyur tubuhku tidak terasa kehangatannya sama sekali. Rasaku sudah terlalu habis untuk merasakan problematika yang tengah kini aku rasakan. Mulai saat ini setiap detik adalah ancaman. Ancaman tatkala bunda mengetahui tentang apa yang kini tengah ada dalam ragaku.

                Belum sempat aku mengambil handuk yang menggantung diatas pintu, suara bunda terdengar dari lantai bawah rumahku. "Cepet Cit. Ini udah jam setengah tujuh. Jam segini Surabaya rawan macet !"

                "bentar ma, tinggal pake seragam" balasku seraya mengambil handuk polos berwarna biru yang tergantung rapi di balik pintu.

                Usai mengenakan seragam sekolah, kupercepat langkahku menuju dapur. Ku ambil sepotong roti yang sudah disiapkan Mbok Ira sejak tadi pagi. Kulahap potongan roti itu seraya berlari kecil menuju pelataran rumah. Disana , tampak bunda sudah siap dengan pakaian rapi dengan tas laptop di tangan kirinya.Senyum bunda yang semakin melebar seakan mengisyaratkanku untuk segera masuk ke dalam mobil dan bersiap mengarungi kemacetan kota Surabaya.

                Seperti biasanya, Mbok Ira dengan tergopoh-gopoh bergegas berlari kecil untuk membukakan pagar agar mobil putih kesayangan bunda ini bisa keluar dari pelataran. Usai terbuka, mobilpun melesat meninggalkan rumah dan melihat Mbok Ira yang semakin lama tampak semakin kecil hingga akhirnya menghilang dari penglihatanku ketika mobil ini bergerak melewati persimpangan.

               Benar saja, dugaan bunda tidak salah. Walaupun mentari sudah lama terbit, tetap saja kemacetan tak bisa dihindari. jarum jam panjang sudah bergerak melewati angka sembilan. Bel sekolah akan berbunyi tidak lebih dari 13 menit lagi sedangkan aku masih baru saja keluar dari kawasan perumahan. Hari ini, sudah dapat dipastikan aku telat tiba di sekolah. Pikiranku kembali melayang, aku masih dilema tentang statusku saat ini. Cepat atau lambat, wanita yang tengah menyetir mobil jaguar putih ini akan segera tahu apakah yang tengah terjadi terhadap putri semata wayangnya ini. Pagi ini, kemacetan kota pahlawan menjadi saksi betapa dilemanya aku.

(LANJUT KE POSTINGAN SELANJUTNYA ....)





You Might Also Like

0 comments

Flickr Images