#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (6) : INGATAN INGE
07:24
Inge, setidaknya hanya itu yang bisa
kuingat. Aku hanya tahu benar siapa namaku. Hanya itu, selebihnya aku
hanya tahu siapa nama ayah dan ibuku serta satu nama lagi yang aku
sendiri masih belum yakin siapa orang itu.
Sedetik yang lalu, aku baru saja
terbangun dari tidur panjangku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali
aku tidur. Sekelilingku hanyalah ruangan yang dibatasi tembok-tembok
dengan warna cat putih bersih. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya
aku di ruangan ini, sendiri ditemani cairan putih tepat beberapa
meter di atas kepalaku. Di tanganku tertancap sebuah benda asing yang
aku sendiri tak tahu apa namanya. Kepalaku sedikit banyak masih
pusing. Tidur panjangku menyebabkan semuanya berubah. Lidahku susah
untuk mengeluarkan suara. Kakiku masih terbujur kaku. Aku hanya
membatin, semoga ada orang yang masuk ke ruangan ini. Ya,
secepatnya. Sebelum tuhan berubah pikiran dan kembali menjerumuskanku
ke tidur dengan jangka waktu yang sangat tidak wajar.
Tak lama, aku mendengar suara ketukan
sepatu yang semakin lama semakin terdengar jelas. Aku dapat
memastikan bahwa suara itu sedang mengarah ke arahku. Dan benar,
seorang wanita cantik dengan baju setelan putih sang saat itu
kuyakini adalah seorang suster. Ia berjalan ke arahku. Memandangku
sejenak, air mukanya tampak bersedih. Seakan menanggung perasaan
batin yang begitu besar. Selang beberapa menit kemudian, dia menarik
sesuatu yang kurasa itu selimut keatas, menutupi sebagian hingga
akhirnya menenggelamkan wajahku di bawah selimut putih.
Aku tak bisa bergerak. Akupun tak
sanggup berontak. Otakku terus berputar layaknya bumi yang tengah
berotasi. Berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan untuk
disatukan demi mendapat sebuah jawaban. Aku hampir putus asa dan tak
sanggup melakukannya. Ingin rasanya berontak, namun syaraf-syaraf
tangan dan kakiku terlampau kaku untuk melakukannya. Beberapa saat
setelah selimut itu menenggelamkanku, aku bisa mendengar suara
samar-samar isak tangis yang semakin lama semakin keras. Suara itu
familiar. Satu diantaranya bisa dipastikan ibuku. Ada apa yang
sebenarnya terjadi gerangan ? Aku tak pernah melihat ibuku sesedih
itu. Ke.. Kec..Kecuali..
Ingatanku kembali seketika. Aku ingat
semuanya. Dalam sekelibat, aku teringat betapa kecewanya ibu ketika
–entahkapan- aku menceritakan hubunganku dengan Ihsan, pria tampan
yang memeluk agama Islam. Ibu marah besar dan sempat mengusirkan dari
rumah jika aku masih nekat berhubungan dengan pria tak seiman. Jiwa
katholik yang tertanam erat di keluargaku mengharuskan aku untuk
tidak main-main dengan agama. Agama menjadi tembok besar bagi aku dan
Ihsan. Keputusan telah kubuat. Aku lebih baik mati daripada harus
menanggung hari demi hari yang menyiksa dengan sebutan anak kurang
ajar, anak durhaka dan hardikan-hardikan lain yang tak kalah
kejamnya.
Selepas itu, aku tak ingat lagi. Yang
bisa kuingat hanyalah betapa besar cintaku pada Ihsan. Kekuatan cinta
masih tertanam erat walau semuanya telah berubah. Kekuatan cinta tak
bisa dilenyapkan begitu saja. Kekuatan cinta sangat besar, sebesar
cintaku untuk Ihsan dan cintanya untukku. Walau kini kutahu, dunia
kita telah berbeda. Aku melayang tinggi tak tau kemana arahnya. Aku
lenyap seketika, tak membawa apa-apa. Namun ditanganku aku bisa
merasakan sesuatu. Aku tersadar bahwa digenggamanku, aku membawa
cintanya turut serta. Cintaku, cintanya, cinta dua dunia.
#28HariBerceritaCinta
-dims-
0 comments