#28HariBerceritaCinta (6) : INGATAN INGE

                   Inge, setidaknya hanya itu yang bisa kuingat. Aku hanya tahu benar siapa namaku. Hanya itu, selebihnya aku hanya tahu si...

                   Inge, setidaknya hanya itu yang bisa kuingat. Aku hanya tahu benar siapa namaku. Hanya itu, selebihnya aku hanya tahu siapa nama ayah dan ibuku serta satu nama lagi yang aku sendiri masih belum yakin siapa orang itu.

                   Sedetik yang lalu, aku baru saja terbangun dari tidur panjangku. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku tidur. Sekelilingku hanyalah ruangan yang dibatasi tembok-tembok dengan warna cat putih bersih. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya aku di ruangan ini, sendiri ditemani cairan putih tepat beberapa meter di atas kepalaku. Di tanganku tertancap sebuah benda asing yang aku sendiri tak tahu apa namanya. Kepalaku sedikit banyak masih pusing. Tidur panjangku menyebabkan semuanya berubah. Lidahku susah untuk mengeluarkan suara. Kakiku masih terbujur kaku. Aku hanya membatin, semoga ada orang yang masuk ke ruangan ini. Ya, secepatnya. Sebelum tuhan berubah pikiran dan kembali menjerumuskanku ke tidur dengan jangka waktu yang sangat tidak wajar.
 
                 Tak lama, aku mendengar suara ketukan sepatu yang semakin lama semakin terdengar jelas. Aku dapat memastikan bahwa suara itu sedang mengarah ke arahku. Dan benar, seorang wanita cantik dengan baju setelan putih sang saat itu kuyakini adalah seorang suster. Ia berjalan ke arahku. Memandangku sejenak, air mukanya tampak bersedih. Seakan menanggung perasaan batin yang begitu besar. Selang beberapa menit kemudian, dia menarik sesuatu yang kurasa itu selimut keatas, menutupi sebagian hingga akhirnya menenggelamkan wajahku di bawah selimut putih.
 
                 Aku tak bisa bergerak. Akupun tak sanggup berontak. Otakku terus berputar layaknya bumi yang tengah berotasi. Berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan untuk disatukan demi mendapat sebuah jawaban. Aku hampir putus asa dan tak sanggup melakukannya. Ingin rasanya berontak, namun syaraf-syaraf tangan dan kakiku terlampau kaku untuk melakukannya. Beberapa saat setelah selimut itu menenggelamkanku, aku bisa mendengar suara samar-samar isak tangis yang semakin lama semakin keras. Suara itu familiar. Satu diantaranya bisa dipastikan ibuku. Ada apa yang sebenarnya terjadi gerangan ? Aku tak pernah melihat ibuku sesedih itu. Ke.. Kec..Kecuali..

                  Ingatanku kembali seketika. Aku ingat semuanya. Dalam sekelibat, aku teringat betapa kecewanya ibu ketika –entahkapan- aku menceritakan hubunganku dengan Ihsan, pria tampan yang memeluk agama Islam. Ibu marah besar dan sempat mengusirkan dari rumah jika aku masih nekat berhubungan dengan pria tak seiman. Jiwa katholik yang tertanam erat di keluargaku mengharuskan aku untuk tidak main-main dengan agama. Agama menjadi tembok besar bagi aku dan Ihsan. Keputusan telah kubuat. Aku lebih baik mati daripada harus menanggung hari demi hari yang menyiksa dengan sebutan anak kurang ajar, anak durhaka dan hardikan-hardikan lain yang tak kalah kejamnya.

                  Selepas itu, aku tak ingat lagi. Yang bisa kuingat hanyalah betapa besar cintaku pada Ihsan. Kekuatan cinta masih tertanam erat walau semuanya telah berubah. Kekuatan cinta tak bisa dilenyapkan begitu saja. Kekuatan cinta sangat besar, sebesar cintaku untuk Ihsan dan cintanya untukku. Walau kini kutahu, dunia kita telah berbeda. Aku melayang tinggi tak tau kemana arahnya. Aku lenyap seketika, tak membawa apa-apa. Namun ditanganku aku bisa merasakan sesuatu. Aku tersadar bahwa digenggamanku, aku membawa cintanya turut serta. Cintaku, cintanya, cinta dua dunia.

#28HariBerceritaCinta
-dims-

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images