PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (5)

Bagian kelima.                   Pelajaran demi pelajaran di sekolah ini berangsur-angsur usai hingga akhirnya suara bel terdenga...


Bagian kelima. 


                Pelajaran demi pelajaran di sekolah ini berangsur-angsur usai hingga akhirnya suara bel terdengar menyeruak di seluruh penjuru sekolah. Seluruh siswa yang sejak pagi bersemangat menimba ilmu kini tampak berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Senyum mereka yang mengembang siap menemaninya dalam perjalanan pulang. Tak sedikit pula dari mereka yang masih bertahan di sekolah hanya untuk sekedar bermain dan bersanda gurau dengan kawan sebayanya. 
               Aku sendiri lebih memilih duduk di ujung perbatasan ruang kelas. Di sini suasana lebih sepi, setidaknya aku bisa mendengarkan suara burung-burung kecil yang tengah bersabda dengan merdunya. Suara kicauannya bagai melodi penyegar yang seketika itu biaa menyulap suasana sepi menjadi suasana ceria penuh harmoni. Walau kenyataannya aku masih sendiri. 
          Kulihat sekelilingku, semua siswa yang tadi bermain-main kini mulai menghilang dari penglihatanku.  Langit mulai memendung, tapi jaguar putih milik bunda belum menampakkan dirinya sedikitpun. Ku keluarkan ponsel dari sakuku seraya memencet tuts tuts angka nomor telepon milik bunda. Beberapa kali nada sambung terdengar, namun tak kunjung diangkat. Ku ulangi sekali, dua kali, tiga kali namun nihil. Tidak ada tanda-tanda bunda akan mengangkat teleponnya. 
             Aku hanya bisa kembali duduk pasrah menunggu kedatangan bunda. Belum sempat aku memasukkan ponselku kembali ke saku, tanpa kuduga sosok wanita kalem yang sudah tidak asing bagiku mengambil tempat duduk tepat disampingku. Dia bu Mus, wanita yang selalu peduli kepadaku. Dia juga mantan wali kelasku di kelas VII dulu. Dia menatapku tajam bagaikan elang. Pandangannya tidak berpaling dariku. Kini giliran aku yang canggung. Aku masih tidak tahu harus membuka dialog duluan atau menunggu bu Mus yang membukanya. Aku tak tahu, yang jelas mata elangnya masih menatapku. Semakin lama tatapannya semakin menajam. Beberapa saat kemudian ia memulai dialog siang hari ini. 
                 "Besok bisa temui bu Mus di ruang BK ?" 
             Aku menoleh ke arahnya, tatapan mata elangnya masih tajam. Aku mencoba menyusun kata-kata dan mulai angkat bicara "bisa bu. Tapi cuma berdua kan, bu ?" 
            Tatapan mata elangnya masih tajam, namun kali ini dia diam. Tak menjawab pertanyaanku, namun dari tatapannya aku tahu bahwa dia akan menjawab iya. Dan benar saja, sejurus kemudian dia kembali menatapku seraya berkata "pasti". Belum sempat aku melanjutkan obrolan siang ini dengan bu Mus suara mobil bunda sudah terdengar. Suara mesinnya berhenti dan bunda tampak keluar dari mobil putih itu dan menghampiriku. 
                   "maaf ya sayang, bunda telat jemput. Waduh terima kasih ya bu Mus, maaf merepotkan" 
                  Kucium tangan lembut bu Mus dan bergegas masuk ke dalam mobil. Hari ini terlalu lelah buatku. Aku ingin melampiaskan rasa letihku di kamar seharian ini.  Aku tidak mau diganggu. Karena mulai besok, aku akan memperjuangkan nasibku sendiri. Mulai besok aku akan fokus menyelesaikan masalahku dan mulai besok aku menumpu sejuta harapanku untuk bisa kembali tersenyum seperti dulu.
                Statusku sebagai penyandang postif penyakit yang dianggap sebagian orang penyakit terkutuk ini membuatku tidak bisa bernafas lega. Setiap detik yang kulalui adalah detik-detik penuh ketakutan. Detik-detik yang kujalani adalah detik-detik penuh sandiwara. Semuanya tercipta karena rasa takut,cemas dan gelisah yang kuciptakan sendiri. Rasa letihbyang kurasa membuatku perlahan terlelap. Tanpa kusadari, aku sudah berada di alam mimpi. Terbang seraya membawa bayang-bayang dari kebebasan atas kemelut kegelapan.
LANJUT KE BAGIAN SELANJUTNYA .....

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images