PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (6)

BAGIAN KE-ENAM. Bel istirahat menggema ke seluruh ruang lingkup sekolah. Beberapa wajah siswa-siswi yang sedari tadi menegang mulai menu...

BAGIAN KE-ENAM.


Bel istirahat menggema ke seluruh ruang lingkup sekolah. Beberapa wajah siswa-siswi yang sedari tadi menegang mulai menunjukkan paras bahagia sembari berlarian ke kantin sekolah. Aku sendiri masih berjalan menyusuri koridor kelas menuju ruang BK. Hari ini aku menemui panggilan bu Mus dan akan kusiratkan semua penat yang selama ini kupendam. Aku ingin dirinya tau bahwa aku tidak ingin membuat bunda kecewa.

BRAK !!

Aku terjatuh seketika. Sesosok lelaki berbadan kekar menabrakku dan sukses membuatku jatuh. Hei ! aku belum pernah melihatnya di sekolah selama ini. Apa dia anak baru ? entahlah, yang jelas ia sudah berhasil membuatku kesal dengan ulahnya. Ia menatapku dengan raut muka penuh rasa bersalah. Ia julurkan tangannya untuk menolongku yang masih tergeletak di lantai koridor. Beberapa anak yang melewatiku menatapku tajam seolah-olah ada yang aneh. Bukan seolah-olah, ini memang aneh. Aku sendiri bukannya malah menerima juluran tangannya dan segera berdiri, tapi aku malah memilih tetap tergeletak di koridor dan masih menatap wajahnya. Entahlah, tatapan wajahnya membuat aku susah berpaling untuk memerhatikannya. Tangannya mulai bergerak, dan aku sadar bahwa tangannya memastikan aku sadar atau tidak. Segera saja kuterima juluran tangannya dan bergegas untuk berdiri.

“Maaf ya, serius gak sengaja” ujarnya seraya membantuku untuk berdiri.

Aku tidak menjawab. Aku sudah berdiri, namun tatapanku masih mengarah ke wajahnya. Sulit untuk mengalihkan pandanganku kali ini. Tatapan matanya teduh, sedikit banyak menenangkan hatiku. Belum pernah aku melihat pasang mata yang seperti ini. Dalam, namun menyejukkan jiwa. Tanpa kuduga, sebuah kalimat meluncur dari bibirku sendiri.

“Kamu anak baru ?”
“Iya. Kenalin, Ragil”
“Ragil?”
“Iya, Ragil. Kenapa ? ehm.. Kalo namamu ? boleh tau ?”
“Citra”

Sungguh, menurutku dengan wajahnya yang macho dan badannya yang kekar serta aroma badan yang wanginya minta ampun, ia lebih pantas dipanggil Thomas,Andre,Calvin atau mungkin Kevin ketimbang dipanggil Ragil. Entahlah, yang jelas ia pernah mengatakan kepadaku bahwa nama itu sangat berarti untuknya. Walaupun, hingga kini akupun tak tau maksudnya.

Aku segera merapikan diri dan memalingkan muka dari wajahnya. Aku ingat sesuatu. Jam istirahat hampir habis dan aku belum menepati janjiku untuk menemui bu Mus.

“Aku duluan ya, bye !”
“Oke, maaf ya, tadi seriusan gak sengaja”

Aku mengangguk pelan dan melambaikan tanganku untuknya. Dari kejauhan, aku bisa melihat bahwa dia tersenyum dan membalas lambaian tanganku. Tiba-tiba saja kudapati diriku saat ini sedang duduk berdua dengan bu Mus di sebuah ruang privasi yang letaknya didalam ruang BK. Tidak ada siapa-siapa, hanya aku dan bu Mus. Hanya ada kami berdua.

“Apa kamu merasakan sesuatu di dalam tubuhmu , Citra ?” Bu Mus memulai pembicaraan.
“Eng,,, Sejauh ini tidak bu. Semoga saja.”
“Bu Mus khawatir dengan kondisimu. Beberapa guru di sekolah ini sudah mulai membicarakanmu. Apa tidak sebaiknya kita bicarakan ini dengan bundamu ?”
“Maaf bu Mus, saya belum sepenuhnya siap. Saya takut dituding macam-macam. Saya takut dituding bergabung dengan pergaulan bebas. Saya takut bu, saya takut.”

Ia menatapku. Lagi-lagi tatapan elangnya terlihat dengan amat jelas. Sedikit menenangkan, namun tatapan Ragil tadi jauh lebih menenangkan. –Ups! Kita sedang tidak membahas Ragil disini-  Tatapannya menunjukkan ekspresi peduli yang jujur tanpa dibuat-buat. Ia mengusap pelan rambutku dan kembali berbicara.

“Sampai kapan kamu mau menutup ini semuanya , Citra?”
“Sampai saya benar-benar siap bu”
“Bu Mus akan tunggu”

Senyumnya mengembara ke seluruh sudut ruangan. Bel istirahat yang telah usai membuat pertemuan empat mata ini harus segera disudahi. Kucium tangan bu Mus, dan iapun membalas dengan senyuman hangat. Langkah kaki selanjutnya adalah langkah kakiku yang semakin kupercepat menuju ruang kelas karena ulangan harian Sejarah akan segera dilangsungkan dan aku tak mau sedikitpun terlambat.

***

Lagi-lagi bel sekolah terdengar di seluruh penjuru sekolah. Sedikit banyak, suara bel tadi telah membuat gelisah wajah-wajah kawan sekelasku yang belum merampungkan ulangan harian sejarahnya. Keringat mereka mengucur deras. Namun, belum sempat mereka mengelap keringat mereka,  Bu Tika sudah siap untuk menarik kertas soal dan lembar jawaban. Wajah mereka tertunduk pasrah, berharap keajaiban akan datang dan merubah nilai mereka.

Aku sendiri sukses menaklukan 40 soal yang tersaji di tiap-tiap lembar soal ujian. Tapi tetap saja, aku masih belum sanggup untuk tersenyum secara tulus. Aku masih ragu untuk tersenyum. Tanpa berfikir untuk tersenyum atau tidak, segera saja kurapikan alat tulisku kedalam tas dan bergegas keluar kelas untuk melakukan rutinitas sepulang sekolah : menunggu datangnya jaguar bunda.

Belum sempat aku mengambil nafas setelah seharian megap-megap akibat dijejali soal-soal ulangan, aku kembali disesakkan dengan seseorang. Kedatangannya membuat nafasku sesak tak karuan. Ya, Ragil berada di depan kelasku. Bahkan, bisa kuprediksi ia sudah menungguku di depan kelas ini sejak tadi. Ya, terlihat dari raut wajahnya yang berubah ketika pintu terbuka dan ia melihat ada aku disana. Dia kembali melembarkan senyumnya padaku. Ah ! aku hanya tertarik pada matanya yang teduh itu. Harus kuakui, matanya sukses membuatku melupahan semua masalah dalam sejenak.

“Disini dari tadi?”
“Iya. Nungguin kamu”
“Hah ? Nungguin aku ? untuk apa ?
“Aku gak punya temen di sekolah ini”
“lalu ?”
“Aku ingin berteman denganmu”

Tanpa ba-bi-bu yang terlalu lama, segera kutarik tangannya menuju perbatasan kelas tempat dimana biasanya aku menunggu jaguar bunda seraya mendengarkan alam semesta dengan jutaan sabdanya. Usai tiba di ujung perbatasan kelas, aku tersenyum penuh kemenangan. Kulihat kebelakang dan aku bisa menatap jelas bahwa nafasnya sedang tersenggal-senggal.  Damn !! dengan raut wajah seperti itu dia malah tampak semakin macho! Aku kesal karena dia tampak semakin ‘oke’ dimataku.

Aku rasa tuhan belum memberi restu untuk kita bertemu. Belum sempat dia membuka dialog, jaguar bunda sudah menampakkan diri di jalanan depan sekolah. Tanganku member isyarat kepada Ragil dan meninggalkannya menuju mobil jaguar milik bunda. Dari dalam mobil, aku masih bisa melihat matanya terus membuntutiku. Senyumnya yang khas masih terlihat hingga akhirnya ia menghilang seraya bunyi mesin mobil yang semakin menjauh dari pelataran sekolah. Tuhan ! ternyata hidup ini indah !

LANJUT KE BAGIAN SELANJUTNYA .........................

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images