PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (8)
15:13BAGIAN KEDELAPAN...
Aku masih terduduk di ruang kelas dengan berlembar-lembar soal ulangan fisika yang membutakan pikiran. Ribuan angka dan rumus-rumus terus berputar di sekeliling kepalaku. Tak ada yang bisa kulakukan, hanya berusaha menyelesaikan soal demi soal, lagu bergegas lari sekencang-kencangnya menuju ke halaman belakang sekolah. Ragil, laki-laki yang baru saja kukenal beberapa hari yang lalu itu pasti sudah menungguku disana. Tadi pagi, sebuah notes kecil tertempel di lokerku dan laki-laki dengan bulu cambang di sekeliling wajahnya itu memintaku untuk menemuinya pukul sepuluh. Tepat di belakang sekolah. Itulah yang tertulis, namun nyatanya kini jam dinding sudah hampir menuju pukul sebelas dan aku masih berkutat dengan soal-soal fisika yang tak kunjung rampung.
Ruangan kelas yang cukup luas ini seakan sempit. Bagaimana tidak, setiap detik yang kulewatkan adalah suatu siksaan. Semakin lama aku mengulur waktu, ada rasa bersalah yang semakin besar. Aku berusaha menyelesaikan soal-soal itu, namun tetap saja jarum jam seakan tak memberikan toleransi.Ujungnya terus berputar mengelilingi lingkaran bingkai jam dinding. Tidak ada jalan lain, soal ini kuisi dengan jawaban acak, lalu bergegas berlali untuk bertemu Ragil secepatnya di halaman belakang. Ya, sudah tidak ada jalan lagi.
Satu demi satu tanda checklist tergambar di tiap abjad masing-masing soal ujian. Aku menandainya secara asal. Tampa melihat soal dan berharap aku bisa keluar dari sini secepatnya. Usai yakin bahwa semua nomor telah kuisi, aku bergegas menuju meja pengawas dan kuserahkan lembaran itu. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku berlari menuju pelataran belakang sekolah. Tapi, di antara rerimbunan rerumputan dan batu-batu kerikil gersang, tak kulihat perawakan Ragil. Apakah dia sudah meninggalkan tempat ini karena menungguku terlalu lama ? Atau justru ia mengingari janji yang telah dibuatnya sendiri ?
Ingin rasanya memencet nomor ponselnya dari ponselku dan mencari tahu dimana ia sekarang, Namun di notes yang kujumpai di loker tadi pagi, mengisyaratkan agar aku tidak menghubunginya sampai akhirnya aku berhasil menemuinya di tempat dimana aku berdiri saat ini dan pukul sepuluh. Ya, tepat pukul sepuluh, Kini ? Waktu sudah berputar terlampau cepat. Aku terlambat 90 menit. Bukan waktu yang sebentar. Dan bagi anak laki-laki seperti dia, butuh kesabaran ekstra untuk menemui orang yang baru dikenalnya selama itu. Aku mencoba berfikir positif. Mungkin saja ia lelah menunggu dan kembali ke kelasnya. Ya, mungkin begitu.
Dugaanku tidak salah dan mungkin tidak pernah salah. Ketika aku menyambangi kelasnya, aku bisa melihat dia tengah tertunduk lesuh di bangku ujung paling belakang. Raut wajahnya seakan kehilangan semangat. Ingin rasanya aku memasuki ruangan itu dan menenangkannya dari masalah. Ingin rasanya memberi solusi atas masalahnya. Namun niat itu segera kuurungkan ketika wajahnya menatap ke arahku, menatapku tajam dan beberapa detik kemudian ia memalingkan wajahnya dari wajahku. Ia berusaha menenggelamkan wajahnya di antara lengannya yang cukup berotot itu. Ada apa ini ? Apa dia marah karena aku tak mengikuti isi memonya ? Tapi demi tuhan, ujian fisika tadi tak bisa kutinggalkan. Saat ini yang ingin kulakukan adalah bergegas masuk ke dalam lalu menjelaskan semuanya. Tapi aku takut itu justru akan memperparah keadaan. Jadi kuputuskan untuk kembali ke kelas, mengikuti jam pelajaran berikutnya lalu bergegas pulang dan berharap ada 1 atau 2 pesan singkat darinya di ponselku.
Pelajaran jam terakhir tak terlalu berat, Seni budaya. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau aku amat piawai di bidang kesenian. Seni apapun. Seni tari, musik, lukis, teater. Namun, kepiawaianku seakan hilang begitu saja hari ini. Tangan seni ku tak lagi mampu menggoreskan kuas ke kanvas untuk mengerjakan tugas mingguan. Otakku masih merekam dengan jelas bahwa mata lelaki itu menatapku setajam itu lalu mengacuhkannya dalam sekejap. Bagai tamparan maut yang menyambar. Bahkan lebih dari sekedar tamparan.
Ketika bel berbunyi, hanya aku yang belum menyelesaikan tugas mingguan seni budaya untuk kelas minggu ini. Semua anak menatap kanvasku yang masih kosong belum ternoda, seakan wajah mereka dapat berbicara "Citra yang dulu bukan Citra yang ini". Kubereskan peralatan tulisku dan bergegas menuju loker untuk menaruh beberapa buku dan berharap dalam perjalanan, aku bisa bertemu Ragil dan menjelaskan semuanya. Aku tidak mau semua ini berjalan dengan cara menggantung. Dia harus tau, bahwa aku juga menyesal karena telah melakukannya,
Sesampainya di loker, aku tak melihat keberadaannya, Hanya saja, aku lihat sebuah memo menempel di lokerku. Memo dengan warna dan motif yang sama. Semakin dekat langkahku, maka semakin jelas tulisan yang tertulis didalamnya, Kalimatnya sederhana. Seperti ini :
"Jangan Jelaskan Semuanya. Semua penjelasan ada di kamar rumahmu. Sekarang !"
(LANJUT KE BAGIAN SELANJUTNYA,,,,"
0 comments