#28HariBerceritaCinta (3) : DALAM GELAP

          Di dunia ini, tak semua hal yang kita temui di permukaan pandangan kita adalah sesuatu yang dapat dijabarkan. Tak semua wujud y...

          Di dunia ini, tak semua hal yang kita temui di permukaan pandangan kita adalah sesuatu yang dapat dijabarkan. Tak semua wujud yang dapat kita rasakan mampu untuk didefinisikan. Dan tak semua dari apa yang dapat kita lihat mudah untuk kita jelaskan, Termasuk cinta. 

Tahukah kalian berapa jumlah populasi manusia di muka bumi ? Ya, sebanyak itulah definisi cinta yang bisa kau temui. Tidak ada yang mampu mendefinisikan cinta secara logis. Karena cinta, milik setiap insan. Karena cinta, punya rasa. Dan rasa itulah yang membuat perbedaan di setiap manusia. Tak ada definisi yan rinci. Tak ada penjabaran yang logis. Dan itulah cinta.

Satu hari, pasangan ideal yang telah menjalin hubungan di usia matang membuat mereka siap untuk menempuh tahap berikutnya yang lebih serius. Mereka adalah Jane dan kekasihnya, Noel. 8 Tahun bukan waktu sebentar bagi mereka untuk mendekatkan diri satu sama lain. Dan itulah alasan sehingga mereka berani membuat keputusan untuk meniti ke jenjang yang lebih dewasa. Namun siapa sangka, kehadiran tuhan tak bisa disepelehkan. Dialah yang menentukan, dengan siapa hambahnya layak berpasangan. Suatu dialog ringan yang mereka ceploskan di sebuah ruangan ketika lampu penerangan padam, kedewasaan mereka muncul dan merubah semua keputusan yang telah mereka bangun dengan kokohnya.

Noel      : Lampu mati ?
Jane       : Aku juga tak tahu, kenapa tiba-tiba begini
Noel      : Biasanya seperti ini ?
Jane       : Aku kan sudah bilang, aku tidak tahu
Noel      : Ini kan rumahmu, bagaimana bisa kau tidak tahu ?
Jane       : Kalau ini rumahku, lalu menurutmu aku harus tahu semua hal tentang rumahku, gitu ?!
Noel      : Kok kamu jadi nyolot ?
Jane       : Yang mulai duluan siapa ?
Noel      : Kamu bukan Jane yang aku kenal.
Jane       : Kamu juga bukan Noel yang kukenal. Noel yang kukenal bukan Noel yang barusan. Noel   yang kukenal tidak pernah memaksaku untuk menjawab sesuatu yang tidak ingin kujawab.
Noel      : Aku tidak memaksamu.
Jane       : Lantas apa ?
Noel      : Kamu kenapa , Jane ?
Jane       : Kamu yang kenapa !!
Noel      : Ini rumahmu, aku hanya ingin tanya,  apa biasanya juga terjadi seperti ini?
Jane       : Tidak semua hal yang kumiliki harus ku mengerti !
Noel      : Harus ! semuanya harus kau mengerti ! Semua yang kau miliki harus kau mengerti. Jika aku menikah denganmu dan aku telah menjadi milikmu. Apakah kau tak punya keinginan untuk mengerti diriku ?
Jane       : Itu beda, Noel ! Jangan bawa-bawa hubungan kita. Kita mau menikah.
Noel      : Hal sepele saja sudah kau sepelehkan. Bagaimana dengan hal yang jauh lebih besar dari sekedar kata ‘Sepeleh’ ? aku sendiri tak yakin kau dapat melakukannya.
Jane       : Beberapa bulan lagi kita menikah, jangan bawa hubungan kita !
Noel      : Sepertinya tidak akan terjadi. Aku salah telah memilihmu

             Noel membuka pintu dan membantingnya keras-keras. Ia keluar begitu saja meninggalkan Jane yang menyesal akan keegoisannya. Disini, apa yang tak pernah mereka lihat diperlihatkan oleh tuhan, Dzat yang telah menciptakan mereka. Disini, apa yang tak pernah mereka dengar diperdengarkan oleh tuhan, Dzat yang mempertemukan mereka. Dan disini, apa yang belum pernah mereka tahu, ditunjukkan oleh tuhan, Dzat yang memisahkan mereka. Ketika paras membutakan pandangan kita, maka akal sehat senantiasa ditolak mentah-mentah. Namun ketika kita memandangnya netral kita bisa merenungkan segalanya. Dan dalam gelap, semuanya dipertemukan untuk terpisahkan
 
#28HariBerceritaCinta
-dims-

You Might Also Like

1 comments

  1. Eh ya Tuhan, cuma karena mati lampu langsung putus? Gillaaaakk.

    ReplyDelete

Flickr Images