#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (3) : DALAM GELAP
18:23
Di dunia ini, tak semua hal yang
kita temui di permukaan pandangan kita adalah sesuatu yang dapat dijabarkan.
Tak semua wujud yang dapat kita rasakan mampu untuk didefinisikan. Dan tak
semua dari apa yang dapat kita lihat mudah untuk kita jelaskan, Termasuk cinta.
Tahukah kalian
berapa jumlah populasi manusia di muka bumi ? Ya, sebanyak itulah definisi
cinta yang bisa kau temui. Tidak ada yang mampu mendefinisikan cinta secara
logis. Karena cinta, milik setiap insan. Karena cinta, punya rasa. Dan rasa
itulah yang membuat perbedaan di setiap manusia. Tak ada definisi yan rinci.
Tak ada penjabaran yang logis. Dan itulah cinta.
Satu hari,
pasangan ideal yang telah menjalin hubungan di usia matang membuat mereka siap
untuk menempuh tahap berikutnya yang lebih serius. Mereka adalah Jane dan
kekasihnya, Noel. 8 Tahun bukan waktu sebentar bagi mereka untuk mendekatkan
diri satu sama lain. Dan itulah alasan sehingga mereka berani membuat keputusan
untuk meniti ke jenjang yang lebih dewasa. Namun siapa sangka, kehadiran tuhan
tak bisa disepelehkan. Dialah yang menentukan, dengan siapa hambahnya layak
berpasangan. Suatu dialog ringan yang mereka ceploskan di sebuah ruangan ketika
lampu penerangan padam, kedewasaan mereka muncul dan merubah semua keputusan
yang telah mereka bangun dengan kokohnya.
Noel : Lampu mati ?
Jane : Aku juga tak tahu, kenapa tiba-tiba
begini
Noel : Biasanya seperti ini ?
Jane : Aku kan sudah bilang, aku tidak tahu
Noel : Ini kan rumahmu, bagaimana bisa kau
tidak tahu ?
Jane : Kalau ini rumahku, lalu menurutmu aku
harus tahu semua hal tentang rumahku, gitu ?!
Noel : Kok kamu jadi nyolot ?
Jane : Yang mulai duluan siapa ?
Noel : Kamu bukan Jane yang aku kenal.
Jane : Kamu juga bukan Noel yang kukenal. Noel
yang kukenal bukan Noel yang barusan. Noel yang kukenal tidak pernah memaksaku untuk menjawab
sesuatu yang tidak ingin kujawab.
Noel : Aku tidak memaksamu.
Jane : Lantas apa ?
Noel : Kamu kenapa , Jane ?
Jane : Kamu yang kenapa !!
Noel : Ini rumahmu, aku hanya ingin tanya, apa biasanya juga terjadi seperti ini?
Jane : Tidak semua hal yang kumiliki harus ku
mengerti !
Noel : Harus ! semuanya harus kau mengerti !
Semua yang kau miliki harus kau mengerti. Jika aku menikah denganmu dan aku
telah menjadi milikmu. Apakah kau tak punya keinginan untuk mengerti diriku ?
Jane : Itu beda, Noel ! Jangan bawa-bawa
hubungan kita. Kita mau menikah.
Noel : Hal sepele saja sudah kau sepelehkan.
Bagaimana dengan hal yang jauh lebih besar dari sekedar kata ‘Sepeleh’ ? aku
sendiri tak yakin kau dapat melakukannya.
Jane : Beberapa bulan lagi kita menikah,
jangan bawa hubungan kita !
Noel : Sepertinya tidak akan terjadi. Aku salah
telah memilihmu
Noel membuka pintu dan membantingnya
keras-keras. Ia keluar begitu saja meninggalkan Jane yang menyesal akan
keegoisannya. Disini, apa yang tak pernah mereka lihat diperlihatkan oleh
tuhan, Dzat yang telah menciptakan mereka. Disini, apa yang tak pernah mereka
dengar diperdengarkan oleh tuhan, Dzat yang mempertemukan mereka. Dan disini,
apa yang belum pernah mereka tahu, ditunjukkan oleh tuhan, Dzat yang memisahkan
mereka. Ketika paras membutakan pandangan kita, maka akal sehat senantiasa
ditolak mentah-mentah. Namun ketika kita memandangnya netral kita bisa
merenungkan segalanya. Dan dalam gelap, semuanya dipertemukan untuk terpisahkan
#28HariBerceritaCinta
-dims-
1 comments
Eh ya Tuhan, cuma karena mati lampu langsung putus? Gillaaaakk.
ReplyDelete