PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (7)

bagian ketujuh.             Pagi sudah menyibak malam. Aku terbangun dari tidurku yang lelap kemarin malam. Kulihat kalender yang meng...


bagian ketujuh.

            Pagi sudah menyibak malam. Aku terbangun dari tidurku yang lelap kemarin malam. Kulihat kalender yang menggantung, dan aku tersadar bahwa hari ini hari Minggu. Ada waktu buatku untuk beristirahat seharian sebelum menghadapi hari-hari selanjutnya yang pastinya akan semakin berat dengan statusku yang seperti ini.
Suara jejak sepatu bunda terdengar nyaring menaikin satu per satu anak tangga hingga akhirnya ia berhasil masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menyerahkan kepadaku seraya berpesan “Bunda harus ketemu client di Batam. Mungkin sekitar satu minggu bunda disana. Citra disini sama mbok Ira ya? Tiap hari kamu bakal dianter-jemput sama pak Jono, suaminya mbok Ira. Dia nginep di rumah kita sampe bunda pulang. Jaga diri baik-baik ya… Muah !”

Bibir bunda yang halus itu kini mendarat tepat di keningku. Usai itu, suara langkah bunda terdengar menjauh. Selanjutnya, aku mandi dan bersiap duduk berjam-jam di depan televisI untuk menyaksikan acara kartun di minggu pagi yang ditayangkan estafet tiada henti.

Samar-samar kudengar suara mesin mobil bunda menyala. Dapat kupastikan bunda sudah berangkat. 1 minggu tanpa bunda setidaknya bisa membuatku sedikit tenang tanpa takut bunda akan tahu soal penyakitku. Selain itu, ada waktu untuk memutarbalikkan kondisi sehingga semuanya kembali normal ketika bunda kembali ke Surabaya.

Usai mandi, sepotong sandwich dengan krim kacang di dalamnya serta segelas susu coklat hangat tertata rapi di depan meja televisi. Mbok Ira sudah hafal betul kebiasaanku tiap Minggu pagi. Aku memang sudah 15 tahun, bukan anak kecil lagi. Melainkan kebiasaan menonton anime di Minggu pagi adalah kebiasaan masa kecil yang sampai kini tak bisa kuhindari.

Layar televisi menampakkan film kartun dengan tokoh kucing ajaib sebagai tokoh utamanya. Mulai aku kecil hinga aku tak lagi kecil seperti saat ini, judulnya masih belum berubah, tetap Doraemon. Watak tokohnya pun tetap itu-itu saja. Dan selama kurang lebih 10 tahun menonton film ini, tetap saja Nobita yang dibully. Kasian sekali dia.
Sudahlah, hari ini aku tidak mau memikirkan yang macam-macam. Aku mau hari ini aku bersenang-senang. Bebas lepas dari segala beban dan rutinitas yang mengekang.  Aku membuat posisi dudukku senyaman mungkin di sofa berwarna oranye terang dan berusaha untuk melepaskan semua penat sejauh-jauhnya.

***
5 Jam menonton sajian televisi perlahan membuatku jenuh. Aku ingin keluar rumah. Ya , aku ingin keluar rumah. Eits, aku lupa. Bunda selalu melarangku untuk keluar rumah tanpa dikawalnya. Tapi sekarang masa bodoh ! bunda sedang tidak ada di rumah dalam jangka waktu yang lama dan aku dapat berbuat apa saja yang aku suka.

Aku berlari kecil menuju garasi dan mengambil sepeda angin yang sudah lama tidak kupakai. Entahlah, kapan terakhir kali memakainya saja aku tak sanggup mengingat. Debu yang menempel di sepeda putih glossy itu sudah cukup banyak. Ku ambil lap kanebo dan segera kupoles batang sepeda yang masih kinclong itu. Sudah bisa kutebak, mbok Ira dengan paniknya menghampiriku.

“Duh mbak Citra, jangan main sepeda. Nanti bunda marah loh mbak”
“Mbok, Citra bukan anak kecil lagi. Citra gak mau dikekang terus mbok”
“Tapi Mbak Citra, nanti bunda bi….”
Aku membungkam mulutnya cepat-cepat dan segera berbisik padanya.
“Kali ini aja mbok. Please, Citra pengen keluar rumah”
“Ehm.. Jangan lama-lama ya mbak”

Aku tidak menjawab, tapi ibu jemariku kuacungkan keatas tanda setuju. Tapi, dari wajahnya dapat tersiratkan aura khawatir dan ketakutan yang melebur jadi satu. Aku tak terlalu memikirkannya, yang jelas kini jalanan perumahan siap kujelajahi dengan sepeda putih yang kini tengah kunaiki.

Sepertinya cuaca sore ini cukup bersahabat. Awan sedikit mendung namun tak meneteskan air hujan membuat aku betah berlama-lama bersepeda. Bunyi senandung alam menemaniku mengiringi jalanan perumahan. Jangan heran, kompleks perumahan tempat tinggalku cukup luas. Bahkan boleh dibilang sangat luas. Diputari menaiki sepeda seharianpun tidak akan pernah selesai. Sedikit berlebihan memang, tapi begitulah adanya.

Tanpa terasa, kulihat awan di atas sana mulai menghitam. Pertanda bahwa sang malam akan siap mengusir mentari dari posisinya. Udara mendadak dingin. Aku segera memalingkan wajahku dari tatapan awan dan bergegas mengayuh sepedahku untuk kembali pulang. Di persimpangan jalan menuju blok rumahku, bisa kulihat dari kejauhan bahwa mbok Ira tampak celingukan di depan rumah. Wajahnya tampak gelisah, mungkin dia menantiku yang tak kunjung datang. Aku salut dengan dia, usianya yang sudah berkepala lima tidak membuatnya berhenti untuk bekerja. Diapun tak pernah menikmati hasil jerih payahnya. Tiap bulan, mbok Ira selalu meminta bunda untuk mengirimkan gajinya ke rekening anaknya. Kali ini aku tersadar bahwa surge memang benar-benar ada di telapak kaki ibu.

Duh mbak Citra. Saya nunggu mbok dari tadi loh..”

Wajahnya tampak cemas. Namun sedikit berubah ketika aku datang.

“Iya maaf ya mbok. Udah lama engga main sepeda. Jadi kesenengan deh”
“Yaudah, mbak Citra mandi aja ya. Makan malam sudah si mbok siapin di meja makan”

Aku mengangguk dan secepat mungkin masuk kedalam rumah. Ups, aku lupa. Sepedaku masih tergeletak di depan pagar. Baru saja aku berbalik arah dan menuruni anak tangga depan rumah, aku sudah melihat mbok  Ira menuntun sepedaku kedalam pagar. Tidak bisa kupungkiri, aku benar-benar percaya bahwa di telapak kakinya ada surga gemerlap bagi anak-anaknya.

Aku kembali masuk ke rumah dan bergegas mandi. Keringat yang mengucur akibat bersepeda seharian membuatku sedikit bau. Bukan sedikit, mungkin sangat bau.  

Usai mandi, kurebahkan diriku di ranjang. Seharian ini aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku terbuai dan berusaha terlelap. Namun, sebuah pesan singkat yang masuk di ponselku membuyarkan semua keinginanku untuk tidur.

“Besok kita bisa main lagi kan ?”

Sebuah pesan singkat dari Ragil muncul di bentangan layar ponselku. entah kenapa, hanya melihat namanya muncul saja aku sudah girang. Aku mencoba menepis semua dugaan-dugaan aneh atas rasaku terhadapnya. Tapi tetap saja, aku masih ingat dengan wajahnya, dengan aroma parfumnya sejak pertama kali ia menabrakku di koridor sekolah. Aku tak berminat membalasnya, aku takut salah tingkah. Kudiamkan ponselku di ranjang dan berharap  hari esok akan datang lebih cepat. Dan aku dapat segera bertemu dengannya. Mungkinkah ini cinta ? Entahlah.

LANJUT KE BAGIAN SELANJUTNYA.....

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images