PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (7)
19:04
bagian ketujuh.
Pagi sudah menyibak malam. Aku terbangun
dari tidurku yang lelap kemarin malam. Kulihat kalender yang menggantung, dan
aku tersadar bahwa hari ini hari Minggu. Ada waktu buatku untuk beristirahat
seharian sebelum menghadapi hari-hari selanjutnya yang pastinya akan semakin
berat dengan statusku yang seperti ini.
Suara jejak sepatu bunda
terdengar nyaring menaikin satu per satu anak tangga hingga akhirnya ia
berhasil masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia membuka
dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menyerahkan
kepadaku seraya berpesan “Bunda harus ketemu client di Batam. Mungkin
sekitar satu minggu bunda disana. Citra disini sama mbok Ira ya? Tiap hari kamu
bakal dianter-jemput sama pak Jono, suaminya mbok Ira. Dia nginep di rumah kita
sampe bunda pulang. Jaga diri baik-baik ya… Muah !”
Bibir bunda
yang halus itu kini mendarat tepat di keningku. Usai itu, suara langkah bunda
terdengar menjauh. Selanjutnya, aku mandi dan bersiap duduk berjam-jam di depan
televisI untuk menyaksikan acara kartun di minggu pagi yang ditayangkan estafet
tiada henti.
Samar-samar
kudengar suara mesin mobil bunda menyala. Dapat kupastikan bunda sudah
berangkat. 1 minggu tanpa bunda setidaknya bisa membuatku sedikit tenang tanpa
takut bunda akan tahu soal penyakitku. Selain itu, ada waktu untuk
memutarbalikkan kondisi sehingga semuanya kembali normal ketika bunda kembali
ke Surabaya.
Usai mandi,
sepotong sandwich dengan krim kacang di dalamnya serta segelas susu coklat
hangat tertata rapi di depan meja televisi. Mbok Ira sudah hafal betul
kebiasaanku tiap Minggu pagi. Aku memang sudah 15 tahun, bukan anak kecil lagi.
Melainkan kebiasaan menonton anime di Minggu pagi adalah kebiasaan masa kecil
yang sampai kini tak bisa kuhindari.
Layar televisi
menampakkan film kartun dengan tokoh kucing ajaib sebagai tokoh utamanya. Mulai
aku kecil hinga aku tak lagi kecil seperti saat ini, judulnya masih belum
berubah, tetap Doraemon. Watak tokohnya pun tetap itu-itu saja. Dan selama
kurang lebih 10 tahun menonton film ini, tetap saja Nobita yang dibully. Kasian
sekali dia.
Sudahlah, hari
ini aku tidak mau memikirkan yang macam-macam. Aku mau hari ini aku
bersenang-senang. Bebas lepas dari segala beban dan rutinitas yang
mengekang. Aku membuat posisi dudukku
senyaman mungkin di sofa berwarna oranye terang dan berusaha untuk melepaskan
semua penat sejauh-jauhnya.
***
5 Jam menonton
sajian televisi perlahan membuatku jenuh. Aku ingin keluar rumah. Ya , aku
ingin keluar rumah. Eits, aku lupa. Bunda selalu melarangku untuk keluar rumah
tanpa dikawalnya. Tapi sekarang masa bodoh ! bunda sedang tidak ada di rumah
dalam jangka waktu yang lama dan aku dapat berbuat apa saja yang aku suka.
Aku berlari
kecil menuju garasi dan mengambil sepeda angin yang sudah lama tidak kupakai. Entahlah,
kapan terakhir kali memakainya saja aku tak sanggup mengingat. Debu yang
menempel di sepeda putih glossy itu sudah cukup banyak. Ku ambil lap kanebo dan
segera kupoles batang sepeda yang masih kinclong itu. Sudah bisa kutebak, mbok Ira
dengan paniknya menghampiriku.
“Duh mbak Citra, jangan main
sepeda. Nanti bunda marah loh mbak”
“Mbok, Citra bukan anak kecil
lagi. Citra gak mau dikekang terus mbok”
“Tapi Mbak Citra, nanti bunda
bi….”
Aku membungkam mulutnya
cepat-cepat dan segera berbisik padanya.
“Kali ini aja mbok. Please,
Citra pengen keluar rumah”
“Ehm.. Jangan lama-lama ya
mbak”
Aku tidak
menjawab, tapi ibu jemariku kuacungkan keatas tanda setuju. Tapi, dari wajahnya
dapat tersiratkan aura khawatir dan ketakutan yang melebur jadi satu. Aku tak
terlalu memikirkannya, yang jelas kini jalanan perumahan siap kujelajahi dengan
sepeda putih yang kini tengah kunaiki.
Sepertinya cuaca
sore ini cukup bersahabat. Awan sedikit mendung namun tak meneteskan air hujan
membuat aku betah berlama-lama bersepeda. Bunyi senandung alam menemaniku
mengiringi jalanan perumahan. Jangan heran, kompleks perumahan tempat tinggalku
cukup luas. Bahkan boleh dibilang sangat luas. Diputari menaiki sepeda
seharianpun tidak akan pernah selesai. Sedikit berlebihan memang, tapi
begitulah adanya.
Tanpa terasa,
kulihat awan di atas sana mulai menghitam. Pertanda bahwa sang malam akan siap
mengusir mentari dari posisinya. Udara mendadak dingin. Aku segera memalingkan
wajahku dari tatapan awan dan bergegas mengayuh sepedahku untuk kembali pulang.
Di persimpangan jalan menuju blok rumahku, bisa kulihat dari kejauhan bahwa
mbok Ira tampak celingukan di depan rumah. Wajahnya tampak gelisah,
mungkin dia menantiku yang tak kunjung datang. Aku salut dengan dia, usianya
yang sudah berkepala lima tidak membuatnya berhenti untuk bekerja. Diapun tak
pernah menikmati hasil jerih payahnya. Tiap bulan, mbok Ira selalu meminta
bunda untuk mengirimkan gajinya ke rekening anaknya. Kali ini aku tersadar
bahwa surge memang benar-benar ada di telapak kaki ibu.
“Duh mbak Citra. Saya nunggu
mbok dari tadi loh..”
Wajahnya tampak cemas. Namun sedikit
berubah ketika aku datang.
“Iya maaf ya mbok. Udah lama
engga main sepeda. Jadi kesenengan deh”
“Yaudah, mbak Citra mandi aja
ya. Makan malam sudah si mbok siapin di meja makan”
Aku mengangguk
dan secepat mungkin masuk kedalam rumah. Ups, aku lupa. Sepedaku masih
tergeletak di depan pagar. Baru saja aku berbalik arah dan menuruni anak tangga
depan rumah, aku sudah melihat mbok Ira
menuntun sepedaku kedalam pagar. Tidak bisa kupungkiri, aku benar-benar percaya
bahwa di telapak kakinya ada surga gemerlap bagi anak-anaknya.
Aku kembali
masuk ke rumah dan bergegas mandi. Keringat yang mengucur akibat bersepeda
seharian membuatku sedikit bau. Bukan sedikit, mungkin sangat bau.
Usai mandi,
kurebahkan diriku di ranjang. Seharian ini aku belum menyentuhnya sama sekali. Aku
terbuai dan berusaha terlelap. Namun, sebuah pesan singkat yang masuk di
ponselku membuyarkan semua keinginanku untuk tidur.
“Besok kita bisa main lagi kan
?”
Sebuah pesan
singkat dari Ragil muncul di bentangan layar ponselku. entah kenapa, hanya
melihat namanya muncul saja aku sudah girang. Aku mencoba menepis semua
dugaan-dugaan aneh atas rasaku terhadapnya. Tapi tetap saja, aku masih ingat
dengan wajahnya, dengan aroma parfumnya sejak pertama kali ia menabrakku di
koridor sekolah. Aku tak berminat membalasnya, aku takut salah tingkah. Kudiamkan
ponselku di ranjang dan berharap hari
esok akan datang lebih cepat. Dan aku dapat segera bertemu dengannya.
Mungkinkah ini cinta ? Entahlah.
LANJUT KE BAGIAN SELANJUTNYA.....
0 comments