#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (7) : BA'DA MAGHRIB
20:11
Aku masih pelataran hotel ketika
mendung mulai menghiasi langit-langit angkasa raya. Berdiri mematung
seraya memandangi orang-orang yang lewat silih berganti. Dinginnya
udara di luar hotel membuat gigiku bergemeletuk beberapa kali.
Sesekali angin liar menyapu rambutku hingga terurai. Sejauh mata
memandang, aku tak melihat tanda-tanda kehadirannya. Apa memang ia
tak berniat serius untuk menemuiku ? Entahlah, sudah terlalu lelah
untuk berdiri mematung hampir enam jam disini.
Aku memutuskan untuk menunggu di lobby
hotel. Disini setidaknya aku tak berhadapan langsung dengan angin
malam yang memabukkan. Dari kaca pintu yang tak jauh dari tempat
dudukku itulah mataku masih menerawang kehadirannya. Dan hasilnya
nihil. Tak kutemukan sosok yang kutunggu-tunggu sedari pagi tadi.
Di hari kerja seperti ini, suasana
lobby tampak lengang. Hanya ada 3 orang wanita sosialita yang duduk
di bangku seberang tempat dudukku. Di meja resepsionis hanya ada 2
orang yang menjaga serta 1 satpam yang sibuk dengan kopinya tepat di
depan pintu lobby utama. Di atasku tergantung sebuah televisi
berukuran kurang lebih 42 inchi. Televisi itu tengah mempertontonkan
berita pembunuhan seorang bupati oleh seorang pelacur di villa dini hari kemarin.
Tatapanku berpindah-pindah. Antara
televisi, kaca pintu dan jam tangan. Sudah 7 jam lebih aku menunggu
namun dia tak juga menampakkan diri. Tidak biasanya dia seperti ini.
Dia bukan tipe orang yang suka mengingkari janji.Aku yakin dia pasti
datang. Tapi lama kelamaan aku juga yakin bahwa keyakinanku kali ini
tidak akan berujung pada sebuah kepastian.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 malam.
Diluar sana adzan masih berkumandang. Mantan kekasihku, si Kevin
kali ini tak menepati janjinya. Padahal aku dan dia sama-sama tahu
bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk kita saling bertatap muka.
Aku tidak yakin, setelah adzan usai berkumandang aku tak berani
menjamin bahwa aku bisa bertemu dengannya lagi.
Langkah kakiku berat. Kutinggalkan
hotel Ini menuju polsek yang tak jauh dari hotel tempat aku berdiri
mematung sejak tadi pagi. Ketika aku tiba di polres setempat, muadzin
telah selesai menunaikan tugasnya untuk menyerukan adzan. Saat itu
aku mengakui semua dosaku. Aku menyerahkan diriku untuk diadili. Aku
adalah Theodora, pelacur yang kemarin tidur dengan seorang bupati
ternama. Aku pula yang membunuh dirinya. Tepat saat Ba’da magrhrib,
semua wartawan mengarahkan kameranya untuk melahap wajahku. Beritaku
tersebar dimana-mana. Tapi, hanya allah yang akan tahu apa yang
sebenarnya terjadi di malam itu sehingga aku tega untuk membunuhnya.
Wallahu alam.
#28HariBerceritaCinta
-dims-
0 comments