#28HariBerceritaCinta (10) : Ba'da Isya

              Burung-burung masih terlihat duduk tenang diantara pepohonan dengan cahaya temaram. Langit-langit yang sedari pagi cerah...

              Burung-burung masih terlihat duduk tenang diantara pepohonan dengan cahaya temaram. Langit-langit yang sedari pagi cerah, mulai menunjukkan kemuramannya. Jarum jam pendek mengarah tepat kearah enam. Suara seruan adzan dari surau menggema ke seluruh pelosok desa. Aku terperanjat, ketika adzan belum selesai suara ketukan pintu terdengar di depan rumah.



             Ketika gagang pintu kubuka, yang tampak hanyalah sosok laki-laki paruh baya dengan setelah seragam warna oranye. Dia pak pos. Dia orang yang kerap kali datang ke desaku untuk menyambungkan komunikasi dengan Delia, kekasihku yang tinggal di Jakarta. Dia anak pengusaha kaya, dulu tinggal bersebelahan denganku. Namun semenjak beberapa bulan yang lalu ia pindah ke Jakarta lantaran profesi kedua orangtuanya.



             Amplop bersampul coklat tua lengkap dengan serpihan debu dengan foto bung karno sebagai perangko ini telah berpindah tangan ketanganku. Samar-samar kudengar suara motor petugas pos tadi menderu kencang ditengah heningnya suara adzan dari speaker TOA di surau. Sejenak kutunda sholatku, aku ingin membaca apa yang hendak dikabarkan oleh Delia sore ini.



            Perlahan kertas itu kubuka dari bungkusannya sementara diluar sana muadzin masih terus melantunkan adzan dengan begitu merdunya. Aku tidak menemukan surat didalam amplop itu. Amplop ini hanya berisi sebuah kartu. Ya, tidak salah lagi. Sebuah kartu undangan pernikahan. Namanya tercantum sangat jelas disana. Disamping namanya bukan namaku, nama seorang pria lain. Kartu yang membuatku terpengangah sepersekian detik lalu akhirnya air mataku menetes tepat ketika muadzin tengah menyelesaikan tugasnya melantunkan adzan. Tepat ketika Ba’da Isya, hatiku terluka.

-Dim's-
#28HariBerceritaCinta 

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images