#28HariBerceritaCinta
#28HariBerceritaCinta (4) : PHOBIA
15:42
Pelataran yang luas ini terasa sempit ketika sosok itu kembali datang mendekatiku. Sosoknya yang tegap dan bersahaja selalu membuatku salah tingkah. Tatapan matanya yang tajam membuatku tak bisa berlama-lama duduk dan segera berlari meninggalkannya. Secepat mungkin, sebelum tatapan tajam itu berhasil menangkapku.
Dia datang untuk pertama kali beberapa minggu yang lalu. Aku tak mengenalnya, dan aku sangat yakin bahwa ia juga tak mengenalku. Raut wajahnya asing di pikiranku. Tak pernah sedikitpun melintas. Setiap sore ia selalu berjalan menghampiriku yang tengah merawat tanaman di taman kompleks rumahku. Tatapannya bersahabat, wajahnya putih bersih dengan badan tegap yang terlihat sangat amat keren. Tapi entah kenapa, justru karena -semakin terlihat keren- itulah aku semakin takut menghadapinya.
Ia tak pernah bosan mengunjungiku walaupun aku sering meninggalkannya sendirian di taman sedangkan aku lari terbirit-birit berharap semuanya akan berakhir. Sesekali aku pernah merasa berdosa telah meninggalkannya. Namun aku juga tak sanggup jika sosok itu terus menatapku walaupun aku tahu tak ada sedikitpun niatan buruk yang tergambar dari wajahnya.
Langit semakin mendung ketika aku tiba di taman sore hari ini. Aku akan secepat mungkin menyiram dan memupuki semua bunga di taman ini sebelum akhirnya si pemilik tatapan tajam datang lagi menghampiriku. Namun rasanya usahaku sia-sia, baru satu atau dua tanaman yang kusiram,. sosoknya muncul diantara rerumputan ilalang di perbatasan taman. Kali ini senyumnya melebar dengan tatapan wajah yang khas. Wajahnya yang kharismatik itu berhasil untuk membuatku tetap diam dan tak beranjak sore ini.
Aku menanti detik-detik selanjutnya dengan penasaran. Takut sesuatu yang buruk akan ia lakukan terhadapku. Namun, aku tak mendapatkan reaksi apa-apa. Ia juga masih belum membuka mulutnya. Kini jarakku dan dia tak lebih dari 1 meter dan hanya diapit oleh pipa air yang menjalar. Belum pernah kami sedekat ini dan belum pernah aku melihat senyumnya yang menawan seperti ini. Jujur saja, aku takjub.
Kulihat tangannya mulai bereaksi. Dan, astaga ! jemari lentik tangannya berliuk-liuk membentuk simbol atau apalah untuk menjelaskan sesuatu kepadaku. Apakah dia tuna rungu ? really, ini sulit untuk dipercaya. Detik-detik selanjutnya aku masih melongo melihatnya. Sepertinya ia takut jika aku akan lari lagi seperti yang sudah-sudah, iapun sesegera mungkin mengeluarkan buku kecil dari sakunya dan menuliskan sesuatu. Tulisannya kurang jelas, namun kurang lebih tulisannya seperti ini : "Will You Be My Friend ?". Aku tidak berani mengucapkan apa-apa. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk sebagai pertanda aku menyetujui apa yang ia minta. Ia membalas senyumku dengan senyum yang tak kalah mempesona.
Beberapa tahun kemudian, ia mengeluarkan selembar sapu tangan ketika kami makan di sebuah restoran. Saat kubalik sapu tangan itu, kata-kata yang tak pernah kubayangkan sebelumnya tertulis jelas di sapu tangan itu. Dengan pena berwarna merah hati, sebuah kalimat terpampang : "Will You Marry Me ?"
Hari-hari berikutnya setelah aku menerima lamarannya, aku merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Bahkan sampai hari ini, ketika usia perkawinanku dengannya sudah hinggap 25 tahun, hubungan kami tetap harmonis layaknya ketika pertama kali kami bertemu. Cintaku, Cintanya, Cinta keluarga kita berawal dari satu kata : PHOBIA.
#28HariBerceritaCinta
-dims-
0 comments