#28HariBerceritaCinta (5) : KUNANG-KUNANG

                   Kata orang, roda itu berputar. Ada kalanya kita berada di atas, dan ada kalanya kita berada di bawah. Aku tidak percay...

                   Kata orang, roda itu berputar. Ada kalanya kita berada di atas, dan ada kalanya kita berada di bawah. Aku tidak percaya. Bagiku itu tidak lebih dari sekedar bualan dan omong kosong belaka. Kehidupan terlalu kejam untuk mengenal istilah roda. Kehidupan terlalu serakah untuk berbagi posisi dengan yang lainnya. Kehidupan hanya bisa memakmurkan sebagian orang dan menyengsarakan bagian lainnya. Dan sudah jelas, aku termasuk bagian yang tersengsarakan.

                   Kejamnya kehidupan adalah faKtor utama yang menjerumuskanku sejauh ini. Menjadi seorang Pekerja Seks Komersial bukan perkara mudah. Harga diri dan kesucian yang dulu bisa kubanggakan telah raib dimakan lelaki hidung belang yang rela menghambur-hamburkan lembaran uangnya demi melampiaskan nafsunya. Semuanya kulakukan hanya untuk bisa bertahan menghadapi kelamnya dunia yang tak kunjung mereda.

                   11 tahun sudah aku berkecimpung di dunia tak bermoral ini. Selama itu pula aku tak sanggup menghitung berapa banyak pria yang menikmati setiap inci tubuhku hanya untuk kepentingan nafsunya. Selama itu pula aku tak sanggup menghitung berapa rupiah uang haram yang telah masuk ke perutku dan yang lebih tragis lagi aku tak akan pernah berdaya untuk menghitung berapa banyak dosa yang telah kutorehkan di tangan para malaikat pencatat dosa. 

                  Di antara jutaan pelanggan yang telah datang silih berganti berkencan bersamaku, aku ingat benar dengan satu pria yang membuat aku tak bisa berkata-kata. Mario namanya, datang ke wisma tempat kerjaku 6 tahun silam. Ia selalu datang, mengajakku berbincang, membayar tanpa meminta imbalan. Tak sedikitpun dari bagian tubuhku yang pernah disentuh olehnya. Dia sangat menghormatiku. Dia pernah berkata bahwa dia tak sanggup melihatku ternoda walau saja kutahu bahwa aku sudah ternoda sejak lama. Jauh sebelum ia datang menemuiku.

                Semanjak pertemuan itu, ia sering datang ke wismaku. Masih sama, ia hanya membayar untuk mengajakku berbincang. Selama perbincangan itu aku tahu bahwa ia masih perjaka dan belum menikah. Dari cara bicara dan sorotan matanya, aku bisa melihat cahaya yang tak bisa kulihat di ribuan tamu yang pernah datang ke wismaku. Mata-mata bajingan penuh nafsu tak kutemui di matanya.
Hubunganku dengannya makin dekat hingga akhirnya aku divonis mengidap penyakit Aids. Tidak kaget, sejak awal aku memutuskan untuk merangkul profesi ini aku sudah siap untuk divonis seperti ini. Tinggal menunggu waktu saja, dan inilah waktunya. 

               Dugaanku salah besar. Aku mengira dengan statusku sebagai pengidap AIDS, Mario akan menjahuiku dan mencari wanita yang lebih ‘bersih’ untuk dijadikan kawan bicara. Tapi Mario ternyata tidak sekeji itu. Justru dengan status baruku ini dia jauh lebih dekat denganku. Baru kali ini aku bertemu dengan pelangganku yang terus kuingat wajahnya, bahkan saat aku terlelap. 

               11 Tahun sudah, dan hari ini aku melakukan keputusan besar. Aku tidak mau memperparah keadaanku. Hari ini aku memutuskan untuk berhenti dari profesiku sebagai binatang pembawa cahaya malam bagi lelaki kesepian. Aku memutuskan untuk melepas semua belenggu kunang-kunang yang menyiksaku selama ini. Penyakitku sudah stadium 4, hanya tinggal menunggu hari. Sebelum aku menuju hari terakhir itu, Mario datang menemuiku. Dia datang di ruangan pavilion di sebuah rumah sakit swasta di kotaku. Ia tidak datang sendirian. Ia datang bersama 2 orang lain –yang menurutku- adalah kedua orangtuanya. Ia mengenakan setelan putih bersih. Ia datang untuk menepati janjinya yang ia bisikkan ke telingaku jauh-jauh hari sebelum aku divonis penyakit ini. Hari ini, tepat saat aku berhenti menjadi kunang-kunang, tepat saat 11 tahun setelah kali pertama aku terjun ke wisma dan tepat 7 hari sebelum aku meninggal, Mario datang. Datang untuk melamarku. Dari dia, aku tahu arti cinta yang sebenarnya sebelum akhirnya tuhan tak lagi mengizinkan untuk membuka mata.

#28HariBerceritaCinta

-dims-

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images