PITA MERAH DI PUNDAK CITRA (4)
19:56 Setibanya di sekolah, dedaunan yang mulai mengering di pelataran sekolah menyambut kedatanganku. Suasana sekolah pagi ini cukup sepi. Wajar saja , bel masuk sekolah sudah berbunyi 20 menit yang lalu. Saat ini, semua siswa sudah duduk rapi di bangkunya masing-masing untuk menyimak pelajaran yang disajikan bapak/ibu guru. Kecuali aku. Pagi ini, untuk kesekiankalinya, aku datang terlambat.
Setelah beberapa kali menjajahkan langkah, tibalah aku di depan kelasku. Dari depan kelas ini, samar-samar kudengar suara salah satu guru yang tengah mengajar didalamnya. Suara itu dibarengi dengan suara gurauan beberapa diantara kawanku yang tak sedikitpun bernafsu untuk menyimak pelajaran pagi ini. Aku masih berdiri di depan kelas, berharap semuanya akan baik-baik saja. Masalahnya, ini bukan kali pertama aku terlambat di jam pelajaran yang sama. Antara takut, malu dan tidak enak semuanya melebur jadi satu.
Masalah terjadi bukan untuk dihindari.
Tapi untuk dihadapi.
Aku masuk ke dalam kelas itu.
Dan berharap keadaan akan baik-baik saja.
Sudah dapat kutebak apa yang akan terjadi ketika gagang pintu kelas bercat putih itu kubuka. Kawan-kawan sepermainan yang sejak tadi mendengarkan penjelasan guru mulai menoleh ke arahku. Beberapa diantara mereka bahkan tertawa terbahak-bahak lantaran melihatku berulang-ulang kali memasuki kelas dengan kondisi yang sama,terlambat. Selanjutnya juga bisa kutebak, guru berjilbab yang mengajar di kelas ini sejak bel berbunyi tadi pagi inipun mulai mengeluarkan suaranya.
"terlambat lagi , citra ?"
Aneh. Sangat-sangat aneh. Guru itu tak sedikipun menunjukkan amarahnya. Padahal, di keterlambatanku sebelum-sebelumnya ia selalu mengeluarkan kalimat-kalimat maut supaya aku jera. Namun pagi ini tidak. Entahlah, mungkin beliau sudah bosan melihat aku yang tak kunjung membaik. Sejurus kemudian, aku meminta maaf kepadanya dann beliau mengijinkanku untuk duduk dan sesegera mungkin beliau kembali melanjutkan penjelasannya mengenai pelajaran yang sempat terpotong akibat kedatanganku.
Tidak ada amarah.
Aku lega.
Setelah itu, keadaan berangsur-angsur kembali normal. Tertawaan kawan-kawanku perlahan mulai hilang ditelan suara penjelasan guru yang saat itu sedang bersemagat menjelaskan sistem reproduksi pada manusia. Di tempat dudukku yang lataknya di bangku paling belakang, aku kembali terbayang-bayang akan penyakit yang di diagnosa oleh rumah sakit yang memeriksaku ketika tes golongan darah beberapa minggu yang lalu. Otakku terus berpikir, mencoba menyelesaikan masalah ini tanpa bunda. Aku takut bunda kecewa. Aku anak semata wayang bunda, dan aki harus bisa bikin bunda bangga.
Sesaat kemudian, pelajaran yang diulas selama lebih dari 2 jam pelajaran itu akhirnya berakhir. Berakhirnya pelajaran, dibarengi dengan munculnya ide brilian dari otakku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku bergegas merapikan bangkuku dan bergerak cepat menuju laboratorium komputer yang letaknya tak jauh dari kelasku. Ya, aku akan mencari semua informasi yang berhuungan dengan penyakitku melalui internet. Setidaknya ini lebih baik daripada aku tidak melakukan usaha sama sekali.
Gagang pintu laboratorium itu berhasil kuraih. Setelah kubuka, dapat kupastikan laboratorium ini sepi. Tidak terlihat satu manusiapun di ruangan ini, kecuali pak Eko. Dia seorang laboran yang mengurusi segala jenis laboratorium di sekolahku. Aku melangkahkan lagkah ke arahnya untuk meminta ijn. Tam berlangsung lama, beliaupun langsung mengijinkanku.
Di antara puluhan perangkat komputer yang tertata rapi ini, aku sengaja memilih komputer yang berada di deretan paling pojok. Aku ingin tidak ada yang tahu soal ini dan aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri tanpa bantuan siapapun. Sekali lagi, tanpa bantuan siapapun.
Kutelusuri laman demi laman web yang muncul di bentangan layar komputer. Kuamati satu persatu dan akhirnya aku stuck di sebuah artikel yang membahas tentang penyakitku. Semenjak aku mendapat kabar kemarin siang, aku tak sedikitpun terbesit untuk mencari penyebabnya. Aku terlalu fokus dengan dilemaku yang kuciptakan sendiri sehingga susah untuk membuka mata lebar-lebar dan menyelesaikan semuanya dengan tuntas tanpa bekas.
- Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
- Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
- Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
- Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
LANJUT KE POSTINGAN SELANJUTNYA ...
2 comments
paragraf keempat , kalimat pertama "Sudah dapat kutebak apa yang akan terjadi ketika gagang pintu kelas bercat putih itu."
ReplyDeleteapa kalimat itu tidak ada yang kurang ?
Peta merah di pundak citra (4) ini banyak kata-kata yang 'typo' .
Mungkin bisa diedit kembali :)
Terima kasih.
sebelumnya makasih sudah mampir kesini , makasih juga buat komentarnya.
ReplyDeleteiya maaf itu ada yang kurang , seharusnya bercat putih itu kubuka.
iya banyak typo, aku posting ini pake tablet soalnya. maaf ya , tapi udah tak edit kok.
selamat baca.
thanks.